Pages

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 September 2013

DOMBA YANG KESEPIAN

Oleh Unsiyah A. Hadey

Sekedar intermezo saja saya ditulisan ini,

Saya masih ingat jelas dengan perkataan teman saya yang intinya seperti ini, “ Ketika domba bergerombol dengan domba yang  lainnya akan lebih aman dari pada domba yang sendiri karena akan mudah diterkam oleh Srigala”. Perkataan teman saya ini memang adalah sebuah pengandaian. Pengandaian dimana manusia yang hidupnya memiliki teman yang banyak namun juga teman yang sangat bermanfaat bagi manusia itu sendiri. Misalnya saling mengingatkan ketika ada salah satu pihak yang berbuat salah, ketika bermalas-malasan dan lain sebgainya. Domba yang tidak sendiri akan melakukan kegiatannya secara bersama-sama dengan domba yang lain.  ketika mereka makan rumput yang lain akan makan rumput. Ketika mereka tidur yang lain juga kan tidur.  Ini juga bisa diibaratkan ketika manusia yang satu melakukan kebaikan yang lain dimungkinkan akan juga akan melakukan kebaikan.


Tak jauh – jauh untuk melihat contoh ini, misalnya saja anak kos/asrama yang memiliki banyak teman (teman disini berarti teman yang mengarah kepada kebaikan) dia akan bertingkah baik dengan temannya. Misalnya belajar, beribadah dan lainnya akan dilakukannya dengan seksama. Berbeda ketika kita sendiri tak ada teman yang bisa menjadi penyemangat hidup, apa-apa yang dilakukan sendiri, ketika kita malas tak ada yang menegur kita. Maka terjerumuslah kita pada “kemalasan”. Ibarat domba yang sudah diterkam serigala. L

Minggu, 04 Agustus 2013

MENULIS ADALAH SENJATA

Oleh : Ahmad Finchy Arifin

“tujuan seorang penulis, adalah menarik perhatian pembaca... yang saya inginkan agar pembaca menyimak setiap halaman dari buku yang mereka baca hingga akhir” (Barbara Thucman, Newyork Times, 2 Februari 1989)

Tulisan adalah sesuatu yang selalu mengiringi dan sangat berpengaruh dalam  kehidupan manusia, melalui tulisan ini lah manusia bisa menuangkan ungkapan isi hatinya dan kemudian membaginya pada yang lain. Di saat membaca dan membuat tulisan itu, kita akan merasakan berbagai hal mulai dari sedih, senang, bingung, terkejut dan sebagainya akan terasa saat membaca atau menulis sebuah tulisan. Menurut fakta tulisan sudah digunakan manusia jutaan tahun lalu, hal ini terbukti dengan adanya banyak tulisan-tulisan peninggalan dari jaman pra sejarah dan hal itu pun mempengaruhi perkembangan manusia pada berbagai bidang sesudahnya.

Ide Dapat Sangat Berpengaruh

Sebuah ide bisa sangat berpengaruh bagi perubahan, dalam novel gravis karya Alan Moore “V for Vendetta” yang kemudian di filmkan dengan judul yang sama pada  2006, dalam  cerita  dapat  terlihat jelas bagaimana sebuah ide/gagasan bisa sangat berpengaruh dalam menuju revolusi sosial.

Ada  salah satu dialog dalam  cerita yang menjadi favorit saya yaitu ketika tokoh V tanpa  gentar menerjang peluru-peluru pistol sambil berkata ke penembaknya: "Kau hendak membunuhku? Tak ada darah atau daging di balik jubah ini yang dapat dibunuh. Hanya  ada ide. Dan ide  tahan peluru."  (Vendetta, hlm. 236).

Kemudian dalam  potongan narasi prolog pada  awal film  menerangkan bahwa, “Kita  disuruh mengingat pemikirannya  dan bukan orangnya. Karena  manusia  bisa  gagal. Dia  bisa tertangkap, dia  bisa  terbunuh dan terlupakan. Tapi 400 tahun kemudian...sebuah pemikiran masih bisa mengubah dunia. Aku menyaksikan dari awal akan kedahsyatan sebuah pemikiran. Aku melihat manusia  membunuh dengan mengatas namakan pemikiran itu...dan mati karena mempertahankan pemikiran tersebut. Tapi kau tak  bisa  mencium  sebuah pemikiran...tak bisa menyentuh atau pun memegang pemikiran tersebut. Pemikiran tidak berdarah. Mereka tidak merasakan sakit”. Dalam  akhir cerita  V berhasil metransformasikan pemikiranya  pada  seluruh masyarakat Inggris, seluruh masyarakat Inggris akhirnya  dapat bersatu untuk menggulingkan pemerintahan reZim totaliter yg berkuasa saat itu.

Dari sini kita tahu bahwa betapa dahsyatnya sebuah ide, ide/pemikiran/gagasan itu kebal, tidak bisa dibunuh atau dihilangkan. Proses transformasi lah yang membuat ide  itu tetap ada. Bentuk transformasi ide  bisa melalui media  audio maupun visual, tetapi tulisan adalah salah satu bentuk transformasi ide  yang sangat efektif, karena siapapun juga pasti dapat melakukanya, selain itu tulisan dapat dibaca berulang kali sehingga penanaman ideologi itu akan semakin mendalam.

Tulisan terbukti dapat mempengaruhi kehidupan manusia dalam berbagai bidang, baik dalam  hal perkembangan teknologi, sosial, politik, ekonomi dan budaya. Tulisan digunakan untuk berbagai hal dan keperluannya  dalam menjalankan roda  kehidupan. Seperti yang kita ketahui, ada 2 hal yang tidak dapat dipisahkan, yaitu membaca  dan menulis. Tulisan kita  gunakan untuk mengapresiasi ide  dan membaca  kita gunakan untuk mencari ide. Hal ini menjadi penting karena kita ingat saat duduk di bangku sekolah, membaca dan menulis adalah pelajaran yang pertama kali kita  dapat, ini membuktikan bahwa  membaca  dan menulis adalah kebutuhan pendidikan utama yang wajib.
Tulisan masih digunakan oleh manusisa di berbagai belahan dunia hingga kini. Tulisan mereka gunakan untuk berbagai hal antara lain sebagai sarana komunikasi, informasi, media sosialisasi, atau hanya sekedar sebagai seni karya pribadi. Namun, tak hanya berhenti di situ. Dalam berbagai sejarah perkembangan ternyata tulisan juga bisa dijadikan senjata yang sangat ampuh. Bergantung dari keahlian penulis meramu Isu, informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi dalam resep tulisanya yang kemudian dapat dibaca oleh individu lain, inilah faktor utama kenapa tulisan menjadi sangat berpengaruh dalam berbagai kehidupan.

Tulisan bukanlah senjata yang secara fisik dapat menghancurkan apa saja yang ada di hadapanya. Ibaratnya, jika  tulisan adalah racun, maka  banyak orang yang akan teracuni ketika  membacanya. Maka  jika tulisan itu adalah madu, maka akan membawa manfaat pula bagi yang membacanya.

Menulis adalah Melawan

Banyak penulis yang sepanjang hidupnya  sampai saat  ini masih dikenang karena  dari tulisan yang ia publikasikan mengakibatkan perubahan yang cukup terasa. Ambil contoh salah satu penulis sastra  terkenal William  Shakespeare  yang selama hidupnya  ia abdikan untuk menulis berbagai cerita  berupa  karya  sastra. Hingga  sekarang karya-karyanya  digunakan dan dibaca  oleh manusia  modern bahkan jauh setelah ia meninggal. Atau juga seperti Soe  Hok Gie  yang hingga  sekarang dikenang atas talentanya  dalam  menulis hingga dapat mempengaruhi iklim sosial dan politik bangsa kita.

Kita  mulai dari Soe  Hok Gie, adalah seseorang yang hidup pada  masa  orde  lama yang selanjutnya  menjadi tokoh penting dan mengambil andil dalam  pergerakan perubahan di Indonesia. Pada  masa  itu, terjadi pergolakan besar-besaran di Indonesia. Pemikiran Gie  yang terus bertumbuh kemudian ia  curahkan dalam rentetan catatan harian yang selalu setia menemaninya hingga 12 tahun lamanya. 12 tahun catatan harianya itu kini dirangkum dalam sebuah buku berjudul “Catatan Seorang Demonstran”. Selain itu, Gie lebih banyak berjuang lewat tulisan, Gie merekam jejak pemikiranya dalam berbagai media cetak yang saat itu diharapkan bisa menyebar luaskan pemikiranya yang idealis dan juga realis, karena secara nyata Gie menjadi pion utama dalam  tonggak  awal pergerakan mahasiswa  yang mulai mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah. Hingga sekarang pun tulisan-tulisan Gie masih sangat kental pengaruhnya dalam pergerakan mahasiswa saat ini.

Selanjutnya  sastrawan dan penulis terkenal Pramoedya  Ananta  Toer (Pram), Pram  adalah penulis indonesia yang karyanya paling banyak dilarang beredar selama dua orde di masa kemerdekaan karena banyak karyanya yang mengkritiki pemerintah. Tercatat sekitar 20-an karya Pram yang diharamkan untuk beredar pada masa 1965 – 1995. Semakin banyak aturan, maka  semakin banyak pula pelanggaran, mungkin kalimat itu tepat digunakan dalam konteks ini. Karya-karya Pram yang merefleksikan perlawanan pada reZim justru kian diburu pembaca. Membaca dan mengkoleksi karya-karya Pram melambangkan perlawanan terhadap reZim.

Menulis sebaga Tradisi dan Ritual Intelektual

Sebagai mahasiswa, menulis adalah suatu keharusan. Menulis adalah suatu cara untuk kita melatih kembali daya ingat. Jadi akan sangat sia-sia kalau kita hanya meghafal berbagai teori dari A-Z tanpa kita menulisnya kembali. Menulis adalah cara  untuk menunjukkan eksistensi keintelektualan kita. Namun sayangnya  dalam lingkungan kampus saat ini budaya  menulis sangatlah rendah. Ini disebabkan karena  lebih berkembangnya budaya lisan. Lihat saja, kita lebih sering menemui mahasiswa yang merasa cukup dengan menjadi pendengar saja, mendengarkan ceramah dosen di kelas setelah itu sudah, materi akan dilupakan. Kemudian saat mendekati ujian, mulai pontang-panting mencari pinjaman catatan teman. Selain itu, tenaga  pengajar kita sepertinya  kurang memiliki komitmen  sebagai pengembang ilmu pengetahuan. Di kelas kita  lebih sering mendapatkan metode pengajaran satu arah, budaya lisan seperti itu telah membudaya dalam keseharian kita. Disini terdapat  sebuah temuan yang sama seperti Freire  (1967)  dalam  Pedagogy  of the  Oppressed, bahwa metode  pembelajaran yang digunakan pengajar di Indonesia  masih banyak  menggunakan model satu arah, model hafalan (banking)  dan minim  dialog antara  murid dan pengajar. Anton Novenanto seorang sosiolog Universitas Brawijaya  mangatakan dalam  bahasa  yang radikal  bahwa: anak-anak  Indonesia  dilatih untuk bungkam (!) ketika berada di ruang publik. Jadi, bukan mereka tidak bisa menulis, melainkan anak-anak telah dilatih untuk hening ketika  diminta  untuk mengekspresikan apa  yang dipikirkannya. Padahal jika  ilmu itu diibaratkan sebagai binatang buruan, maka membaca  adalah senjatanya  dan menulis adalah pengikatnya. Setiap manusia pastilah memiliki “rasa” (sense) untuk dibagikan kepada yang lain. perlu juga di sadari bahwa setiap manusia memiliki kemampuan akal – budi untuk memahami “rasa”-nya juga “rasa” yang lain (Habermas, 1990, Teknik dan Ilmu sebagai Ideologi). Menulis adalah salah satu cara mengungkapkan “rasa”. Manusia tidak akan menjadi manusia yang utuh jika dia tidak pernah melatih dirinya untuk mengungkapkan “rasa” dan belajar memahami “rasa – rasa” yang lain.

Untuk itu budaya menulis harus kita galakkan kembali, tidak usah dengan harapan yang terlalu muluk-muluk cukup dengan melalui komunitas/forum diskusi kecil akan tetapi punya kapasitas yang masif, sehingga output yang dihasilkan nanti bisa mempengaruhi orang lain untuk tergerak dalam menggalakan budaya menulis. Miris rasanya lorong-lorong kampus yang seharusnya nampak mahasiswa yang sedang berdiskusi tapi malah yang ada mahasiswa yang nongkrong sambil maen-game, dan juga tembok kampus yang seharusnya dihiasi karya, tulisan dan gagasan mahasiswa malah bertebaran iklan komersil. Kampus yang seharusnya digunakan untuk perang wacana dan beradu intelektualitas, yang ada malah perang politis demi kekuasaan semu. Kampus yang seharusnya  digunakan sebagai ruang untuk memperoleh pendidikan pada  kenyataanya  sekarang kampus hanya digunakan sebagai simbol gaya hidup semata.

Saya berharap nantinya menulis bisa menjadi candu bagi seluruh mahasiswa. Jika tulis-menulis telah menjadi bagian hidup seluruh elemen kampus serta didukung arpesiasi dari civitas akademik, dan juga berkomitmen tinggi untuk menjadikan kegiatan menulis menjadi tolok ukur kualitas dan keunggulan ilmu sebuah universitas, saya yakin mimpi untuk mewujudkan universitas kita bertaraf internasional akan terwujud cepat. Jika Rene Descartes terkenal dengan ”cogito er gosum” (aku berfiki,r maka aku ada)nya maka saya boleh bilang “aku menulis, maka aku ada”, itu berarti keintelektualan seseorang dapat ditunjukan lewat tulisanya. Bangkitlah para pelajar! Menulislah!. Orang idealis, kok tak menuangkan pemikiran ideologisnya dalam tulisan. Sungguh sayang!

Oiya, Saya menunggu tulisan-tulisan anda sekalian yang sedang membaca tulisan ini. Thnks. (fnchy)


*tulisan asli dimuat dalam Zine Komar #4 “Zine Media Alternatif”. Ditulis kembali dengan sedikit penambahan

PERMASALAHAN EKONOMI DI INDONESIA

Oleh : Ika Setya Yuni

Di era modern ini, banyak negara di berbagai belahan dunia mengalami depresi ekonomi sejak tahun 2008. Terutama negara – negara maju di benua eropa, salah satunya yang masih “ segar ” ialah Yunani, Italia dan Spanyol yang mengalami kekisruhan cukup parah sehingga membuat negara merugi dan ketidakstabilan ekonomi. Akibatnya menghasilkan pengangguran yang cukup tinggi. Keadaaan seperti itu juga melanda Perancis, Jerman bahkan Amerika Serikat, namun terasa kurang rasanya kalau membicarakan negara dunia pertama tanpa mengikutsertakan negara dunia ketiga atau negara berkembang seperti Filipina, Meksiko, Ukraina, Malaysia, Brunei Darusallam, Brazil, Argentina dan tentunya, Indonesia. Sebagai pemuda penerus bangsa kurang pantas rasanya kalo tidak membubuhkan analisis mengenai permasalahan Indonesia, khususnya sektor ekonomi.

Awal mula ditengarai dengan penandatanganan AFTA ( Asean Free Trade Area ) dan APEC ( Asean Pasific Economy Corporation ) Indonesia masuk dalam jajaran negara di Asia yang mengikuti sistem perdagangan bebas yaitu ditiadakannya sekat perdagangan yang membebaskan negara – negara anggota leluasa mengekspor tanpa adanya campur tangan pemerintah. Mereka bebas masuk dan menjelajah sampai lorong – lorong lini terkecil dalam masyarakat. Kondisi inilah yang menyebabkan masyarakat kelabakan tak siap mental serta modal, hingga akhirnya banyak pedagang lokal yang harusnya potensial justru gulung tikar. Alhasil maraklah produk – produk luar negeri yang menjamur di pasaran, mulai dari produk dapur, stylist hingga kecantikan. Namun pemerintah seolah kurang tanggap dengan hal itu dan berkelit dengan alasan perekonomian Indonesia tumbuh 6% selama kurun waktu 4 tahun terakhir dan diramalkan lambat laun akan mengungguli perekonomian China. Akankah itu terjadi? Sepertinya perlu perbaikan dalam banyak hal untuk mewujudkannya. Ditengah krisis sosial yang melanda Indonesia saat ini jelas itu tidak mudah, namun bukan berarti tak ada peluang asalkan pemerintah, pemilik modal serta masyarakat konsisten terhadap tujuannya.

Menilik kembali permasalahan yang tak kunjung usai, berawal dari sejarah ketika tahun 1945-1950 pasca kemerdekaan, kondisi ekonomi keuangan masa itu amat buruk. Hal itu disebabkan oleh laju inflasi yang sangat tinggi, juga beredarnya mata uang yang lebih dari satu. Saat itu pemerintah menetapkan tiga mata uang yang berlaku di Indonesia yaitu De Javasche Bank, mata uang Hindia – Belanda dan mata uang Jepang. Kedua tahun 1950 – 1957 yang dikenal dengan masa liberal dimana seluruh kegiatan politik maupun sistem ekonominya menggunakan prinsip liberal. Merujuk pada mahzab – mahzab klasik Laiszez Faire Laissez, seluruh kegiatan perekonomian diserahkan kepada pasar. Padahal kala itu rakyat pribumi masih tertinggal jauh dibanding non pribumi, terutama peranakan Belanda juga pedagang – pedagang dari China. Kondisi tersebut kian memperparah Indonesia. Selanjutnya di masa 1961 – 1967, banyak sekali pergantian kabinet Indonesia, sehingga mengakibatkan sistem sosial, politik dan ekonomi berubah – ubah yang berujung pada permasalahan – permasalahan baru. Tembakan terparah bagi Indonesia ialah tahun 1997, dimana krisis moneter di Indonesia meyebabkan kisruh berkepanjangan, pabrik – pabrik bangkrut, pengusaha gulung tikar, jumlah pengangguran membludak, rupiah anjlok, angka kriminalitas meningkat dsb. Alhasil kebijakan yang selama ini dicanangkan dan dilaksanakan hanya menambah permasalahan – permasalahan baru yang kerap kali membuat RI compang – camping dilanda krisis. Lalu bagaimana solusi yang ditawarkan untuk perbaikan Indonesia?

Pertama disini saya akan menyoroti masalah paling pokok, belajar dari pengalaman 1997 – 1998. Adanya konsistensi sistem pajak untuk berbagai kaum atas, menengah dan kebawah. Selama ini kita tahu, pajak sebagai motor penggerak perbaikan infrastruktur negara mengalami kemandekan dikarenakan mangkirnya para pembayar pajak dengan berbagai alasan. Belum lagi kelonggaran – kelonggaran yang diterima oleh pengusaha membuat rutinitas pajak seakan berhenti begitu saja. Kedua, diterapkannya kemandirian pengambilan keputusan secara ekonomi. Semenjak krisis 1998, Indonesia sangat bergantung pada dana IMF ( International Monetery Fund ). Segala kebijakan dan keputusan Indonesia kala itu juga berdasarkan perintah IMF. Akibatnya sampai sekarang Indonesia masih harus terus membayar hutang pada IMF. Seperti kehilangan jati dirinya, Indonesia terus menuruti permintaan IMF. Sebenarnya situasi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi yang dialami negara – negara Asia Timur lainnya, Jepang, Korea Selatan, China dan Taiwan. Memang dalam hal diplomatis mereka sangat intens berhubungan dengan negara – negara barat, namun untuk menentukan kebijakan ekonomi negaranya mereka sangat mandiri.


Dahulu sekitar tahun 1967  pendapatan perkapita negara – negara di Asia hampir semua sama. Indonesia secara sosial – ekonomi sejajar dengan GNP Malaysia, Thailand, Taiwan dan China, berkisar kurang lebih USS 100 per kapita. Setelah 40 tahun perkembangan perkapita negara – negara tersebut sangat mencolok, Indonesia USS 1.100, Malaysia USS 4.520, Korea Selatan USS 14.000 , Thailand USS 2.490, Taiwan USS 14.590, China USS 1500. Ditarik kesimpulan bahwa meskipun saat itu Indonesia memiliki banyak  lulusan Berkeley ( Universitas terkemuka di AS ) namun mereka tidak mampu mengubah system ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Padahal untuk meningkatkan ekonominya Indonesia memiliki SDA yang melimpah, namun karena kurangnya kepercayaan diri pemerintah saat itu, Indonesia hanya menjual SDA kepada asing dan mengeksploitasinya secara berlebihan tanpa mau mengolahnya sendiri. Kemudian secara terus – menerus untuk melakukan pembangunan infrastruktur Indonesia menggunakan utang luar negeri sebagai penopang utama. Kondisi itu lain halnya dengan proses kemajuan negara - negara Asia Timur lainnya. Mereka menggunakan strategi industrialisasi, ekspor dan peningkatan kualitas produktivitas tenaga kerja dan daya saing nasional. Alhasil meskipun membutuhkan perjuangan panjang, mereka mampu membangkitkan ekonomi mereka dan kini secara perlaha mulai menggeser posisi Amerika sebagai negara adidaya. Hal seperti itu harusnya juga perlu dicontoh oleh Indonesia, jangan lagi bergantung pada utang luar negeri ataupun belas kasihan dari IMF. Mulailah berkembang mandiri dengan memperbaiki sektor mikro serta meningkatkan produktivitas tenanga kerja. Ditengah populasi penduduk yang luar biasa melimpah, tidak sulit bagi Indonesia untuk mencari tenaga kerja dan tentunya juga harus dibekali pembinaan dan ekstra pelatihan kewirausahaan, pengembangan diri serta pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Dari situlah diharapkan adanya spesialisasi pembagian kerja yang secara efisien mampu mengurangi deru pengangguran dan secara perlahan Indonesia mampu menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi paling baik di dunia.

Sabtu, 03 Agustus 2013

MAHABBAH TULISAN

Oleh : Imamulhuda Alsiddiq

            Jika ditanya kenapa saya menulis? Saya akan menjawab bahwa jika mayat bisa diawetkan dengan formalin, maka pemikiran bisa diawetkan dengan tulisan. Melalui tulisan, gagasan dan  ide saya bisa lebih mengenang. Bagaimana mungkin seorang perempuan jelita bisa terbayang-bayang lelaki pujaannya tanpa kenal waktu, jika ia tidak jatuh hati padanya, dan bagaimana mungkin ide dan gagasan kita bisa hinggap menerkam imajinasi orang lain jika tidak ditransformasikan, dan instrumen tulisan-lah yang sangat mungkin untuk melakukan hal tersebut.

Transformasi ide dan gagasan dapat melalui media apapun. Audio visual, tatap muka, atau yang sedikit berbau mistik, melalui mimpi, dan lain sebagainya, akan tetapi tulisan adalah entitas yang dapat dibaca berulang-ulang, sehingga transfer ide, gagasan, ilmu dan pengetahuan dapat berlangsung semakin tajam. Ide tidak mudah sirna dengan tulisan, gagasan tidak mudah hilang dengan tulisan, ilmu tidak menjadi semu, dan pengetahuan tidak hanya jadi angan.

            Sebenarnya menulis tidak jauh berbeda dengan hobi-hobi insan lainnya. Menulis tidak jauh berbeda dengan menyanyi, menulis tidak jauh berbeda dengan bermain musik, menulis-pun tidak jauh berbeda dengan bermain bola. Apa yang membuat mereka tidak jauh berbeda? Yakni pada proses untuk mendapatkannya. Prosesnya hampir sama, yaitu sering-sering berlatih.

Menulis merupakan kombinasi dari kemampuan kognitif dan kemampuan psikomotorik. Meskipun demikian kemampuan psikomotorik-lah yang paling mendominasi untuk membangun kemampuan menulis. Tanpa adanya latihan, latihan dan latihan, mencoba, mencoba dan mencoba, mustahil kemampuan menulis bisa terbangun dengan baik. Oleh karena itulah tidak salah jika salah satu senior saya menyatakan bahwa belajar menulis bak belajar menggayuh sepeda. Bukan teori yang ditekankan, melainkan coba dan mencoba.

Ketika kecil, kita tentu sangat ingat betul bagaimana kala itu kita belajar bersepeda. Kaki kecil nan imut kita belajar menggayuh sepeda ketika itu, naek dan ternyata terjatuh. Tak pantang menyerah, kita pun mencoba lagi. Sekian banyak kita mencoba sekian banyak pula kita terjatuh ketika itu. Tapi bukan kita namanya kalo pantang menyerah. Sampai akhirnya kita bisa menggayuh, dan sepeda kecil yang berbunyi “ngek ngek ngek” itu pun bisa kita kendarai dengan mulusnya. Tapi sepertinya laju sepeda masih terlihat tak beraturan, senggol kanan dan sengol kiri. Jangan khawatir, itu merupakan permulaan yang baik, sampai akhirnya kita bisa menggayuh sepeda dengan baik, sepeda gayuh itu pun akhirnya bisa berjalan aduhai.

            Layaknya belajar bersepeda, belajar menulis pun demikian, berawal dari keinginan yang sangat sulit untuk membangunnya, berlanjut membuat prosa dan menentukan diksi-diksi yang cantik, sampai pada tulisan yang utuh, kita pasti mengalami proses jatuh bangun, sampai pada akhirnya bisa berdiri tegap dan benar-benar meyakinkan. Jangan berhenti ketika engkau jatuh, dan jangan putus asa ketika engkau sakit. Kata kuncinya ada pada coba, coba dan coba.

Mengawali menulis tidak selalu membuahkan hasil yang baik. Kritik dan saran dari pihak lain sangatlah dibutuhkan untuk membuat kemampuan menulis kita bisa terasah dengan baik. Oleh karena itu mari kita semua berkumpul dan berhimpun pada satu wadah dalam upaya saling mengisi, saling bertukar pengetahuan, kemampuan, keahlian dalam segala hal terutama menulis. Melalui wadah ini mari kita bentuk sociowriter-sociowriter selanjutnya dalam bingkai kekeluargaan.

Kemampuan-kemampuan yang sangat bervariasi dan heterogen, berkumpul menjadi satu dan saling bertukar akan menghasilkan individu ataupun komunitas yang khas dan skillable. Pelangi dikatakan indah karena terdiri dari berbagai warna, dan komunitas dikatakan indah dan kuat jika terdiri dari berbagai variasi skill yang dihiasi dengan sikap saling mengisi. SELAMAT MENCINTAI TULISAN, SELAMAT SALING MENGISI, SEMANGAT PENA, DAN SALAM SOCIOWRITERS.

Senin, 29 Juli 2013

MENULIS, MENULIS, MENULIS

Oleh : Isra Yuda

Satu dari sekian banyak keajaiban di dunia adalah buku. Lembaran kertas yang saling menumpuk dan berisi jutaan kata - kata. Keajaiban buku terletak pada isi sekaligus manfaat yang ada. Melalui buku, kata - kata dirangkai menjadi kalimat, diikat dengan tinta dalam bidang datar yang tipis. Pena mengukir huruf demi huruf oleh tangan manusia. Kata yang terangkai merupakan bentuk seni indah yang sangat unik dan orisinil.

Setiap bentuk huruf yang ditulis tangan manusia selalu berbeda satu sama lain. Penulis selalu memiliki gaya huruf yang berbeda - beda. Buku tidak hanya memuat kata, namun juga gambar, angka, garis, bentuk, bahkan simbol. Begitu banyak simbol yang dapat ditulis hingga tak pernah habis tinta dan pena untuk mengukirnya dalam kertas - kertas. Bahkan Tuhan pun menulis kepada hamba di dunia. Bahkan Tuhan, berkomunikasi dengan makhluknya melalui tulisan.

Sebuah tulisan adalah ungkapan, adalah pikiran, adalah rasa, adalah karya. Tulisan selalu dapat mewakili baik pikiran maupun karakter penulis. Membaca tulisan merupakan bentuk lain dari dialog. Hanya saja kita tidak secara langsung berhadapan dengan penulis. Membaca artinya menyelami pikiran, pesan, rasa dan karakter penulis. Huruf, goresan, kalimat, kata, gambar, paragraf, baris, semua itu adalah satu kesatuan utuh. Ibarat tubuh yang terdiri dari berbagai organ. Ibarat jam yang bekerja dari sekumpulan roda gigi.

Merangkai huruf bukanlah perkara mudah. Merangkai kata adalah hal yang sukar. Namun menulis adalah kenikmatan. Bagai memetik anggur di ladang, maka menulis adalah memetik huruf dan merangkainya. Layaknya perasan sari anggur, menulis memabukan dalam nikmatnya, ketika tinta diperas keluar dari pena.

Setiap sejarah selalu diawali dengan tulisan. Setiap kejadian adalah catatan yang tertulis. Peradaban diawali dengan aksara. Ilmu dipelajari dari perkamen - perkamen. Tiada kita tahu apel yang jatuh atau bumi yang bulat jika Newton dan Galileo tidak mencatatnya. Tidaklah kita tahu nikmat cinta dan perjuangan jika Ghibran dan Malaka tidak menuliskannya. Dan tidaklah kita tahu khittah Tuhan kala Muhammad tidak menyampaikan Al-Quran.

Tulislah apa yang kau lihat. Tulislah apa yang kau dengar. Tulislah apa yang kau cium. Tulislah apa yang kau Kecup. Tulislah apa yang kau sentuh. Tulislah apa yang kau rasa. Tulislah yang kau pikirkan. Tulislah apa kata hatimu.

Catatlah setiap kejadian. Catatlah setiap peristiwa. Catatlah pesan yang tersampaikan. Sampaikanlah agar orang tahu. Menulislah, menulislah dan menulislah. Maka kau akan dikenal. Maka kau akan didengar. Maka kau akan bahagia. Maka kau akan abadi.

Minggu, 28 Juli 2013

JUST KIDDING

Oleh : Titin Nurjanah

Salah sasaran
Hari ini ada kegiatan dalam organisasi yang kuikuti, mengharuskankku untuk perPakaian rapi dan memakai jaket almamater, setelah selesai acara  dari kampus aku  segera meluncur ke daerah Manyar, ada panggilan tugas untuk memberikan pelajaran tambahan, ekonomi mahasiswa pinggiran memang agak kembang kempis, berbagai cara dilakukan untuk sekedar makan atau membayar kost, terutama aku yang liburan masih menelusuri kota Surabaya demi recehan yang bernama rupiah.

Sore itu aku masuk gang komplek yang lumayan sepi,  aku agak terburu-buru aku berhenti sejenak tepat di berhenti  tepat di depan mobil avanza yang sedang parkir berlawanan arah, aku melapas jaket almamter yang masih kuPakai, rasanya kurang etis kalau bertamu ke rumah.
Loh, saya melanggar ta Pak??” aku tidak merasa melalukan pelanggaran, apa aku yang tidak tahu pearturan lalu lintas? Pikirku dalam hati.
“Iya kamu berhenti sembarangan kan tadi?” Pak Polisi menegur.
“Keluarkan SIM” kata Polisi yang satunya.
“Gak punya Pak  hehe “  tanpa rasa bersalah  sambil mencoba mencairkan suasana.
Keluarkan STNK” kata Polisi.
“Kalau ini saya punya Pak” Aku membuka dompet, ternyata tidak ada.
Oh iya di dalam jaket hehe” mengingis sambil memandang Pak Polisi.
Mbaknya pelajar kuliah kerja?”
“Kuliah Pak, tapi ini saya sambil kerja ngelesin Pak”
“Asalnya dari mana?”
“Lamongan Pak”
“Lampung ya?”
“Hehe iya tepatnya lamongan kampong”
Orang ini tahu aja, jangan jangan mukaku udah kampungan lagi, hati hati aja Pak, gak akan ada yang ikut sidang atau mengeluarkan uang sepeser pun atas penghinaan ini”  bisik setan dalam hati.
“Karena melanggar dan tidak membawa SIM mbak harus ikut sidang” kata Pak Polisi menawarkan pilihan.
“Haduh Pak, saya sudah terburu-buru, ini juga sudah terlambat sebenarnya”
“Atau bayar denda” Pak Polisi memeberikan tawaran.
“Denda Pak? Tega ya?“ aku mengeluarkan dompet membuka dan menunjukkan kepada orang-orang di depanku, sebenarnya isinya banyak, mungkin terlalu banyak banyak untuk diambil. 1 lembar pecahan 5000, 1 lembar pecahan 1000, 2 koin 500, 4 koin 200 dan 3 koin 100. Hmmm tersenyum padaku dengan nada kecewa.
“Nanti kalau ban sepeda kamu bocor gimana?”
“Kan masih ada 5000 Pak”
“Cek cek..  mahasiswa , kamu itu nglanggar tidak punya SIM”.
“Iya Pak” dalam hatiku lebih tepatnya sudah melanggar tidak punya SIM dan tidak punya uang
….
Tips buat kamu-kamu  yang gak punya SIM,
1. Jangan simpan uang di dompet, simpanlah uang di kaos kaki atau di bawah bantal
2. Tampilkan muka melas,
3. Jangan perlihatkan kalau kamu takut.

Rabu, 24 Juli 2013

UNDANGAN; BERGABUNGLAH DENGAN KAMI!

SALAM PENA!
Menulis tak akan membuat jemarimu patah, dengan tulisan, kau akan bisa menggapai apa yang tidak bisa digapai jemari kecil tak berdayamu. Menulis tak akan membuatmu terlihat menyedihkan, duduk dalam kesendirian dan bergumam dengan pena dan kertas. Menulis tak akan membuatmu mati, dia akan membuatmu hidup lebih lama lagi.

Menulislah, dunia telah bersinar. Menulislah, kau akan dikenal. Rangkailah kata-kata, karena dengan kata yang engkau rangkai kau akan mengubah dunia dengan apa yang kau tuliskan. Itu semua dengan tulisan, hal kecil yang seringkali kau anggap sampah. Apakah kau percaya?

Percayalah bahwa garis takdir yang telah digambar oleh Tuhan, tak lebih dari titik-titik kecil tak berarti. Sama halnya denganmu bukan, wahai manusia kerdil tak berdaya? Namun sadarkah kau, tanpa satu titik kecil, tak kan ada garis-garis selanjutnya. Tanpa satu titik kecil, tak kan ada tulisan-tulisan yang indah, yang membuat kamu melayang-layang dibuatnya. Dan garis takdir itu, terdiri dari titik-titik kecil.

Manusia memang tak terlihat begitu berharga jika dibandingkan dengan malaikat. Tapi setidaknya, manusia akan menjadi berharga ketika mereka menggunakan pikiran dan kebebasan yang dianugerahkan padanya.
Menulis adalah kebebasan, dengan menulis setidaknya kau telah membuktikan bahwa kau begitu berharga. Jadilah bagian dari garis takdir baru, kembali memberikan warna pada garis hitam pekat yang kini mulai memudar. Dengan kuning, merah, hijau dan jinggamu, mari mengukir sejarah baru untuk rumah tua kita dalam satu gerakan.

Kalimat tidak akan terwujud tanpa kata, kata tidak akan terwujud tanpa sebuah titik, dan titik tidak akan terwujud tanpa adanya niat dan kemauan. Datanglah dan jadilah pencetus baru bagi perubahan baik untuk diri dan lingkungan.
 

Daftar Blog Saya