Pages

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 September 2013

DOMBA YANG KESEPIAN

Oleh Unsiyah A. Hadey

Sekedar intermezo saja saya ditulisan ini,

Saya masih ingat jelas dengan perkataan teman saya yang intinya seperti ini, “ Ketika domba bergerombol dengan domba yang  lainnya akan lebih aman dari pada domba yang sendiri karena akan mudah diterkam oleh Srigala”. Perkataan teman saya ini memang adalah sebuah pengandaian. Pengandaian dimana manusia yang hidupnya memiliki teman yang banyak namun juga teman yang sangat bermanfaat bagi manusia itu sendiri. Misalnya saling mengingatkan ketika ada salah satu pihak yang berbuat salah, ketika bermalas-malasan dan lain sebgainya. Domba yang tidak sendiri akan melakukan kegiatannya secara bersama-sama dengan domba yang lain.  ketika mereka makan rumput yang lain akan makan rumput. Ketika mereka tidur yang lain juga kan tidur.  Ini juga bisa diibaratkan ketika manusia yang satu melakukan kebaikan yang lain dimungkinkan akan juga akan melakukan kebaikan.


Tak jauh – jauh untuk melihat contoh ini, misalnya saja anak kos/asrama yang memiliki banyak teman (teman disini berarti teman yang mengarah kepada kebaikan) dia akan bertingkah baik dengan temannya. Misalnya belajar, beribadah dan lainnya akan dilakukannya dengan seksama. Berbeda ketika kita sendiri tak ada teman yang bisa menjadi penyemangat hidup, apa-apa yang dilakukan sendiri, ketika kita malas tak ada yang menegur kita. Maka terjerumuslah kita pada “kemalasan”. Ibarat domba yang sudah diterkam serigala. L

Minggu, 04 Agustus 2013

MENULIS ITU SENI, TERAPI DAN SEGAR

Oleh : Ika Setya Yuni

Setiap orang memiliki cita rasa tersendiri, itulah menulis. Kita  mampu melihat keindahan dari sudut pandang yang berbeda. Bagai mozart yang mengalun diantara tuts – tuts piano, setiap  nuansa memberi arti yang mendalam. Menulis tak hanya sekedar mengukir, ada pemaknaan yang tersirat dalam sebuah karya seni.

Seorang teman pernah berkata padaku “ Menulis dapat dijadikan obat, untuk terapi menempa diri, memahami apa yang ada dalam diri kita. Menulis juga dapat mengenalkanmu pada dunia lain yang disebut imaginasi. Dari situlah kamu akan berproses.”

Akhirnya aku mulai menulis tapi naas, sungguh mengerikan. Tulisanku begitu buruk, karyaku tak layak untuk dibaca. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri. Kenapa menulis begitu sulit? Kenapa hanya aku yang tidak bisa? Karya pertamaku sungguh tak sanggup kutunjukkan pada orang lain. Kemudian seperti ada yang berbisik, orang itu berkata “ Menulislah, apapun yang ingin kau tulis. Kalau karyamu bagus, kamu bisa menjualnya. Kalo jelek, saat kamu terkenal nanti, pasti bisa menjadi bagus. Itu tandanya kamu berproses.”


Aku kembali menulis, meskipun harus jatuh, tergelincir, terjebak dan terperosok. Namun satu pelajaran yang kuperoleh. Menulis membuatku bisa menyepi, sedikit menepi dari rutinitas yang kadang begitu melelahkan. Membantu ku menemukan dunia baru, tenggelam bersama dunia tafsir dan kenyataan. Menulis membuatku mampu menemukan titik kebangkitan dalam diri. Bagai gemericik air yang jatuh perlahan ditemani aroma lilin dan semilir angin yang berhembus, begitu menyegarkan. Itulah terapi. Terkadang dalam hidup, kita memerlukan hal – hal seperti ini agar tak terlalu tegang dalam menjalani fase kehidupan.

Minggu, 28 Juli 2013

JUST KIDDING

Oleh : Titin Nurjanah

Salah sasaran
Hari ini ada kegiatan dalam organisasi yang kuikuti, mengharuskankku untuk perPakaian rapi dan memakai jaket almamater, setelah selesai acara  dari kampus aku  segera meluncur ke daerah Manyar, ada panggilan tugas untuk memberikan pelajaran tambahan, ekonomi mahasiswa pinggiran memang agak kembang kempis, berbagai cara dilakukan untuk sekedar makan atau membayar kost, terutama aku yang liburan masih menelusuri kota Surabaya demi recehan yang bernama rupiah.

Sore itu aku masuk gang komplek yang lumayan sepi,  aku agak terburu-buru aku berhenti sejenak tepat di berhenti  tepat di depan mobil avanza yang sedang parkir berlawanan arah, aku melapas jaket almamter yang masih kuPakai, rasanya kurang etis kalau bertamu ke rumah.
Loh, saya melanggar ta Pak??” aku tidak merasa melalukan pelanggaran, apa aku yang tidak tahu pearturan lalu lintas? Pikirku dalam hati.
“Iya kamu berhenti sembarangan kan tadi?” Pak Polisi menegur.
“Keluarkan SIM” kata Polisi yang satunya.
“Gak punya Pak  hehe “  tanpa rasa bersalah  sambil mencoba mencairkan suasana.
Keluarkan STNK” kata Polisi.
“Kalau ini saya punya Pak” Aku membuka dompet, ternyata tidak ada.
Oh iya di dalam jaket hehe” mengingis sambil memandang Pak Polisi.
Mbaknya pelajar kuliah kerja?”
“Kuliah Pak, tapi ini saya sambil kerja ngelesin Pak”
“Asalnya dari mana?”
“Lamongan Pak”
“Lampung ya?”
“Hehe iya tepatnya lamongan kampong”
Orang ini tahu aja, jangan jangan mukaku udah kampungan lagi, hati hati aja Pak, gak akan ada yang ikut sidang atau mengeluarkan uang sepeser pun atas penghinaan ini”  bisik setan dalam hati.
“Karena melanggar dan tidak membawa SIM mbak harus ikut sidang” kata Pak Polisi menawarkan pilihan.
“Haduh Pak, saya sudah terburu-buru, ini juga sudah terlambat sebenarnya”
“Atau bayar denda” Pak Polisi memeberikan tawaran.
“Denda Pak? Tega ya?“ aku mengeluarkan dompet membuka dan menunjukkan kepada orang-orang di depanku, sebenarnya isinya banyak, mungkin terlalu banyak banyak untuk diambil. 1 lembar pecahan 5000, 1 lembar pecahan 1000, 2 koin 500, 4 koin 200 dan 3 koin 100. Hmmm tersenyum padaku dengan nada kecewa.
“Nanti kalau ban sepeda kamu bocor gimana?”
“Kan masih ada 5000 Pak”
“Cek cek..  mahasiswa , kamu itu nglanggar tidak punya SIM”.
“Iya Pak” dalam hatiku lebih tepatnya sudah melanggar tidak punya SIM dan tidak punya uang
….
Tips buat kamu-kamu  yang gak punya SIM,
1. Jangan simpan uang di dompet, simpanlah uang di kaos kaki atau di bawah bantal
2. Tampilkan muka melas,
3. Jangan perlihatkan kalau kamu takut.

 

Daftar Blog Saya