Pages

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Ahmad Finchy Arifin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmad Finchy Arifin. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Februari 2014

Mahasiswa : Organisasikan Komunitasmu, Jangan Memilih!

Oleh : Ahmad Finchy A.

Dalam demokrasi, harus ada yang menang dan kalah—Hillary Clinton
Tulisan ini berjudul sama dengan tulisan salah seorang teman yang digunakan untuk Propaganda pada Pemilu 2009 silam1. Bukan bermaksud menjiplak, kami hanya ingin mengadopsinya kedalam ranah yang lebih kecil yaitu mahasiswa. Tujuan dari pembicaraan singkat ini adalah untuk meyakinkan anda sekalian untuk lebih peduli terhadap kampus kita dan untuk menyadarkan teman-teman kita yang sedang tersesat2.

Dewasa ini, Demokrasi sangat marak sekali di kalangan mahasiswa, banyak hal yang kemudian disangkut pautkan dengan Demokrasi, mulai dari ranah diskusi, analisis isu/fenomena, menyematkanya untuk sebutan kampus, melabeli kelompok atau organisasi, sampai pada hal yang selalu diklaim dan digembar-gemborkan sebagai ‘Pesta Demokrasi’3. Lalu kenapa kita tidak merasa ada sesuatu yang menggembirakan, jika demokrasi adalah solusi dari segala masalah? Kenyataanya di kampuspun masih kerap terjadi kekerasan Ospek, saling boikot antar kelompok, perebutan kekuasaan, bahkan sampai saling berebut kader organisasi. Lalu, ada yang salah dengan ‘demokrasi’ kita? Apakah ada alternatif yang lebih memungkinkan?

Siapapun bisa berada di BEM maupun BLM
Adalah suatu kebohongan besar apabila ingin menjadi pengurus BEM atau BLM harus menjadi kader di ‘salah satu’ Organisasi terlebih dahulu, harus mengikuti sistem pemilihan dan harus punya suara terbanyak. Semua orang punya hak yang sama, Siapapun sebenarnya berhak untuk berpartisipasi dalam menjalankan sistem itu. Posisi-posisi di dalamnya haruslah dibagi secara adil di beberapa golongan agar bisa berjalan sebagai mana mestinya.

Sistem kita sangatlah tidak demokratis, kita semua sudah tahu susunan struktural di BEM dan BLM disusun dengan proporsi yang secara absurd sangatlah tidak adil. Hanyalah golongan ‘mereka’ saja yang ada disitu. Kalau begitu masih bisa berjalankah fungsi check and Balances di BLM? Masih pantaskah disebut Badan Eksekutif Mahasiswa? mulai sekarang sebut mereka Badan EKSKLUSIF Mahasiswa.

“Lihat, Kotak Suara—Demokrasi? Atau Pseudo Democracy?”
Apabila demokrasi adalah sesuatu yang berharga di mana telah banyak yang berjuang untuknya, maka kotak suara adalah sebuah pereduksian makna atas demokrasi itu sendiri, seseorang cukup memasukkan pilihan suaranya pada sebuah kotak, kemudian kembali pada aktivitasnya, tanpa sadar mereka telah dicurangi, bahwa sistim kotak suara sangat mudah sekali untuk dimanipulasi. Semuanya sudah di desain dari awal hingga akhir.

Dengan sistem Partai yang sebenarnya dibuat sebagai dalih untuk menutupi kecurangan, belum lagi pelibatan Partai MaBa (Mahasiswa Baru) hasil dari pengkaderan salah satu Organ Ekstra, alasanya pasti sangat klise untuk proses belajar. Padahal itu adalah suara terbesar yang bisa dengan mudah dimanfaatkan. Harusnya mereka masih baru belum pantas ikut dalam permainan karena mereka rentan dimanfaatkan.

Kampus yang disebut sebut sebagai miniatur negara banyak mengadopsi tentang Undang Undang dan segala peraturan yang ada di sistem NKRI. Diharapkan dengan adanya UU ini yang disahkan oleh dewan legislatif mahasiswa tidak ada kecurangan kecurangan dalam proses Pesta Demokrasi kampus dan menghasilkan pemimpin yang layak yang nantinya. Tetapi apa daya ketika suatu kelompok yang berkepentingan ingin menjadi penguasa dengan mengindahkan azas azas demokrasi, Semua sudah disiapkan dengan rapi dengan mengatur undang undang yang agar orang yang berkepentingan disini bisa kembali di kursi hangat ketua BEM dan BLM. Banyak kecacatan yang ditemukan dalam proses pengesahan Undang Undang baik dalam perihal pembentukan KPU sampai proses verifikasi bakal calon4. Dan sekali lagi, kita semua tahu itu, semua hasil dari kotak suara itu sangat tidak masuk akal dan semuanya sudah dipersiapkan. Inilah kampus kita, miniatur dari negara, jika mahasiswanya aja udah berbuat hal macam ini jangan salahkan kalau nanti negara kita juga ikut rusak.

Sistem kotak suara bukanlah sistem yang demokratis, karena tetap suara terbanyaklah yang menang, Kita menerima kebenaran secara mutlak bahwa kepentingan mayoritas lebih penting karena kita tidak pernah percaya bahwa hal tersebut akan mengancam kepentingan kita. Dalam hal ini mungkin konsensus bisa menjadi sebuah alternatif, Demokrasi konsensus tidak menuntut agar seseorang menerima kekuatan orang lain atas hidupnya, walaupun hal ini juga bukan berarti bahwa tiap orang tidak membutuhkan orang lain, walaupun dalam soalan efisiensi, hal seperti ini amatlah lamban, tetapi dalam segi kebebasan dan itikad baik, hal tersebut akan mendapat poin yang sangat tinggi. Demokrasi konsensus tidak memaksa orang untuk mengikuti pemimpin ataupun standarisasi nilai, melainkan membiarkan orang lain untuk memiliki tujuannya dan cara pencapaiannya sendiri5.

Kekerasan Ospek adalah Efek Rezim, maka janganlah Memilih!
"Masih terlalu banyak mahasiswa bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, menindas kalau
berkuasa, mementingkan golongan, ormas, teman seideologi, dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari SMA, Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi" (Soe Hok Gie)

Kenapa kekerasan pada ospek terus terjadi? Kenapa Ospek yang harusnya ‘Orientasi’ berubah menjadi ‘Ajang Senioritas’? Salah satunya adalah karena yang berkuasa masih tetap dari golongan yang sama, ini adalah efek berantai. Menurut filsuf John Dewey, sekarang ini, pendidikan sedang diancam oleh kekuatan besar yang salah satunya adalah kekuatan dari rezim-rezim otoriter (authoritarian regimes) yang ingin menciptakan manusia-manusia yang tunduk dan patuh (docile human) pada ideologi yang ada. Ospek berbasis kekerasan ini merupakan efek smping dari terlalu dominanya suatu ideologi yang memaksakan ideologi mereka yang paling benar, budaya kekerasan yang terus direproduksi, bersikap tidak Toleran dan juga Arogan. Karena budaya yang diturunkan sama, budaya ospek yang dulu pun tetap dilanggengkan hingga saat ini. Kalau yang berkuasa masih tetap sama dikuasai oleh satu golongan tertentu, jangan harap hal itu akan berakhir. Dengan ikut berpartisipasi dan memilih mereka maka anda juga ikut melanggengkan penindasan di kampus. Oleh karena itu, Keputusan untuk tidak memilih sangat tepat, karena keputusan untuk tidak memilih adalah termasuk suatu hal yang sangat Demokratis.

Mahasiswa yang menjadi Pengkhianat Mahasiswa
Masih ingatkah kalian dengan ‘Tri Dharma Perguruan Tinggi’?6 kenapa hal itu selalu diajarkan pada Mahasiswa Baru? Karena itulah yang menjadi tujuan, itulah jati diri kita. Kita diharapan untuk menjadi mahasiswa yang bisa lebih termotivasi dan sadar bahwa betapa pentingnya peranan kita di masyarakat, seperti dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Namun lihat keadaan sekarang, tidak satupun dari Tri Dharma yang terlaksana. Mereka lupa pada tujuan utama mahasiswa yang seharusnya mengisi ruang-ruang politis yang lebih berorientasi pada masyarakat, bukanya malah menceburkan diri pada ruang politik semu perebutan kekuasaan di kampus.

Tidak semua mahasiswa dapat menerapkan demokrasi secara substansial, mereka justru malah terjebak dalam makna simbolik semata dan menciptakan pseudo democracy (demokrasi semu). poin penting mengapa demokrasi diajukan oleh Robert Dahl (2001) bahwa demokrasi untuk menghindari tirani yang mengusung rezim kediktatoran yang dominatif. Namun potrem buram tirani tersaji dalam praktik-praktik politik kampus yang menggunakan embel-embel demokrasi. Sebagian mahasiswa larut dalam pergulatan politik kampus dengan cara-cara tirani yang anti-demokrasi. semua dilakukan hanya untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan di organisasi intra kampus. Kampus disulap menjadi lahan pertarungan kepentingan kekuasaan tanpa mengindahkan nilai-nilai substansial demokrasi. Demokrasi hanya didengungkan oleh mahasiswa diluar kampus ,namun didalam kampus nyanyian euphoria tirani semakin nyaring terdengar. Alunan melodi tirani berjalan dengan perilaku politik yang mengacu pada nafsu kekuasaan belaka. Mahasiswa sebagai agen demokrasi justru kembali menghidupkan tirani di kampus  dan membunuh demokrasi di kampus. Pembunuhan demokrasi dilakukan atas kepentingan kelompoknya dengan melakukan penindasan lewat pembatasan kesempatan politik atau permainan licik politik kampus. Logika persamaan yang menjadi spirit demokrasi terkikis oleh nafsu mencapai kekuasaan politik kampus. Dalam hal ini diam melihat tirani mahasiswa atas mahasiswa adalah merupakan penghianatan3.

Marilah sebagai mahasiswa yang sadar akan pentingnya peran mahasiswa di masyarakat, kita perlu mengembalikan tujuan mahasiswa yang harusnya memiliki manfaat nyata bagi masyarakat secara luas. Hidup Mahasiswa!!! Bangkitlah Kalian Kaum Intelektual !!!



Catatan :
  1. Katalis, “Organisasikan Komunitasmu, Jangan Memilih”. 2009
  2. Sangat cocok dengan keadaan mahasiswa sekarang yang semakin melenceng jauh dari jati dirinya.
  3. Istilah Pesta Demokrasi sering digunakan mahasiswa pada saat Pemilihan BEM dan BLM di kampus.
  4. Achmad, KOMAR Zine Edisi Februari 2013 “Pencideraan Demokrasi”. 2013
  5. Metode Konsensus biasa digunakan kelompok Anti-Otoritarian dalam mengambil suatu keputusan karena sifatnya yang lebih egaliter.
  6. Tri Dharma Perguruan tinggi meliputi : Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, serta Pengabdian pada Masyarakat.
  7. Ridho, Komar Zine Edisi Februari 2013 “Membunuh Demokrasi”. 2013 

Minggu, 04 Agustus 2013

MENULIS ADALAH SENJATA

Oleh : Ahmad Finchy Arifin

“tujuan seorang penulis, adalah menarik perhatian pembaca... yang saya inginkan agar pembaca menyimak setiap halaman dari buku yang mereka baca hingga akhir” (Barbara Thucman, Newyork Times, 2 Februari 1989)

Tulisan adalah sesuatu yang selalu mengiringi dan sangat berpengaruh dalam  kehidupan manusia, melalui tulisan ini lah manusia bisa menuangkan ungkapan isi hatinya dan kemudian membaginya pada yang lain. Di saat membaca dan membuat tulisan itu, kita akan merasakan berbagai hal mulai dari sedih, senang, bingung, terkejut dan sebagainya akan terasa saat membaca atau menulis sebuah tulisan. Menurut fakta tulisan sudah digunakan manusia jutaan tahun lalu, hal ini terbukti dengan adanya banyak tulisan-tulisan peninggalan dari jaman pra sejarah dan hal itu pun mempengaruhi perkembangan manusia pada berbagai bidang sesudahnya.

Ide Dapat Sangat Berpengaruh

Sebuah ide bisa sangat berpengaruh bagi perubahan, dalam novel gravis karya Alan Moore “V for Vendetta” yang kemudian di filmkan dengan judul yang sama pada  2006, dalam  cerita  dapat  terlihat jelas bagaimana sebuah ide/gagasan bisa sangat berpengaruh dalam menuju revolusi sosial.

Ada  salah satu dialog dalam  cerita yang menjadi favorit saya yaitu ketika tokoh V tanpa  gentar menerjang peluru-peluru pistol sambil berkata ke penembaknya: "Kau hendak membunuhku? Tak ada darah atau daging di balik jubah ini yang dapat dibunuh. Hanya  ada ide. Dan ide  tahan peluru."  (Vendetta, hlm. 236).

Kemudian dalam  potongan narasi prolog pada  awal film  menerangkan bahwa, “Kita  disuruh mengingat pemikirannya  dan bukan orangnya. Karena  manusia  bisa  gagal. Dia  bisa tertangkap, dia  bisa  terbunuh dan terlupakan. Tapi 400 tahun kemudian...sebuah pemikiran masih bisa mengubah dunia. Aku menyaksikan dari awal akan kedahsyatan sebuah pemikiran. Aku melihat manusia  membunuh dengan mengatas namakan pemikiran itu...dan mati karena mempertahankan pemikiran tersebut. Tapi kau tak  bisa  mencium  sebuah pemikiran...tak bisa menyentuh atau pun memegang pemikiran tersebut. Pemikiran tidak berdarah. Mereka tidak merasakan sakit”. Dalam  akhir cerita  V berhasil metransformasikan pemikiranya  pada  seluruh masyarakat Inggris, seluruh masyarakat Inggris akhirnya  dapat bersatu untuk menggulingkan pemerintahan reZim totaliter yg berkuasa saat itu.

Dari sini kita tahu bahwa betapa dahsyatnya sebuah ide, ide/pemikiran/gagasan itu kebal, tidak bisa dibunuh atau dihilangkan. Proses transformasi lah yang membuat ide  itu tetap ada. Bentuk transformasi ide  bisa melalui media  audio maupun visual, tetapi tulisan adalah salah satu bentuk transformasi ide  yang sangat efektif, karena siapapun juga pasti dapat melakukanya, selain itu tulisan dapat dibaca berulang kali sehingga penanaman ideologi itu akan semakin mendalam.

Tulisan terbukti dapat mempengaruhi kehidupan manusia dalam berbagai bidang, baik dalam  hal perkembangan teknologi, sosial, politik, ekonomi dan budaya. Tulisan digunakan untuk berbagai hal dan keperluannya  dalam menjalankan roda  kehidupan. Seperti yang kita ketahui, ada 2 hal yang tidak dapat dipisahkan, yaitu membaca  dan menulis. Tulisan kita  gunakan untuk mengapresiasi ide  dan membaca  kita gunakan untuk mencari ide. Hal ini menjadi penting karena kita ingat saat duduk di bangku sekolah, membaca dan menulis adalah pelajaran yang pertama kali kita  dapat, ini membuktikan bahwa  membaca  dan menulis adalah kebutuhan pendidikan utama yang wajib.
Tulisan masih digunakan oleh manusisa di berbagai belahan dunia hingga kini. Tulisan mereka gunakan untuk berbagai hal antara lain sebagai sarana komunikasi, informasi, media sosialisasi, atau hanya sekedar sebagai seni karya pribadi. Namun, tak hanya berhenti di situ. Dalam berbagai sejarah perkembangan ternyata tulisan juga bisa dijadikan senjata yang sangat ampuh. Bergantung dari keahlian penulis meramu Isu, informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi dalam resep tulisanya yang kemudian dapat dibaca oleh individu lain, inilah faktor utama kenapa tulisan menjadi sangat berpengaruh dalam berbagai kehidupan.

Tulisan bukanlah senjata yang secara fisik dapat menghancurkan apa saja yang ada di hadapanya. Ibaratnya, jika  tulisan adalah racun, maka  banyak orang yang akan teracuni ketika  membacanya. Maka  jika tulisan itu adalah madu, maka akan membawa manfaat pula bagi yang membacanya.

Menulis adalah Melawan

Banyak penulis yang sepanjang hidupnya  sampai saat  ini masih dikenang karena  dari tulisan yang ia publikasikan mengakibatkan perubahan yang cukup terasa. Ambil contoh salah satu penulis sastra  terkenal William  Shakespeare  yang selama hidupnya  ia abdikan untuk menulis berbagai cerita  berupa  karya  sastra. Hingga  sekarang karya-karyanya  digunakan dan dibaca  oleh manusia  modern bahkan jauh setelah ia meninggal. Atau juga seperti Soe  Hok Gie  yang hingga  sekarang dikenang atas talentanya  dalam  menulis hingga dapat mempengaruhi iklim sosial dan politik bangsa kita.

Kita  mulai dari Soe  Hok Gie, adalah seseorang yang hidup pada  masa  orde  lama yang selanjutnya  menjadi tokoh penting dan mengambil andil dalam  pergerakan perubahan di Indonesia. Pada  masa  itu, terjadi pergolakan besar-besaran di Indonesia. Pemikiran Gie  yang terus bertumbuh kemudian ia  curahkan dalam rentetan catatan harian yang selalu setia menemaninya hingga 12 tahun lamanya. 12 tahun catatan harianya itu kini dirangkum dalam sebuah buku berjudul “Catatan Seorang Demonstran”. Selain itu, Gie lebih banyak berjuang lewat tulisan, Gie merekam jejak pemikiranya dalam berbagai media cetak yang saat itu diharapkan bisa menyebar luaskan pemikiranya yang idealis dan juga realis, karena secara nyata Gie menjadi pion utama dalam  tonggak  awal pergerakan mahasiswa  yang mulai mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah. Hingga sekarang pun tulisan-tulisan Gie masih sangat kental pengaruhnya dalam pergerakan mahasiswa saat ini.

Selanjutnya  sastrawan dan penulis terkenal Pramoedya  Ananta  Toer (Pram), Pram  adalah penulis indonesia yang karyanya paling banyak dilarang beredar selama dua orde di masa kemerdekaan karena banyak karyanya yang mengkritiki pemerintah. Tercatat sekitar 20-an karya Pram yang diharamkan untuk beredar pada masa 1965 – 1995. Semakin banyak aturan, maka  semakin banyak pula pelanggaran, mungkin kalimat itu tepat digunakan dalam konteks ini. Karya-karya Pram yang merefleksikan perlawanan pada reZim justru kian diburu pembaca. Membaca dan mengkoleksi karya-karya Pram melambangkan perlawanan terhadap reZim.

Menulis sebaga Tradisi dan Ritual Intelektual

Sebagai mahasiswa, menulis adalah suatu keharusan. Menulis adalah suatu cara untuk kita melatih kembali daya ingat. Jadi akan sangat sia-sia kalau kita hanya meghafal berbagai teori dari A-Z tanpa kita menulisnya kembali. Menulis adalah cara  untuk menunjukkan eksistensi keintelektualan kita. Namun sayangnya  dalam lingkungan kampus saat ini budaya  menulis sangatlah rendah. Ini disebabkan karena  lebih berkembangnya budaya lisan. Lihat saja, kita lebih sering menemui mahasiswa yang merasa cukup dengan menjadi pendengar saja, mendengarkan ceramah dosen di kelas setelah itu sudah, materi akan dilupakan. Kemudian saat mendekati ujian, mulai pontang-panting mencari pinjaman catatan teman. Selain itu, tenaga  pengajar kita sepertinya  kurang memiliki komitmen  sebagai pengembang ilmu pengetahuan. Di kelas kita  lebih sering mendapatkan metode pengajaran satu arah, budaya lisan seperti itu telah membudaya dalam keseharian kita. Disini terdapat  sebuah temuan yang sama seperti Freire  (1967)  dalam  Pedagogy  of the  Oppressed, bahwa metode  pembelajaran yang digunakan pengajar di Indonesia  masih banyak  menggunakan model satu arah, model hafalan (banking)  dan minim  dialog antara  murid dan pengajar. Anton Novenanto seorang sosiolog Universitas Brawijaya  mangatakan dalam  bahasa  yang radikal  bahwa: anak-anak  Indonesia  dilatih untuk bungkam (!) ketika berada di ruang publik. Jadi, bukan mereka tidak bisa menulis, melainkan anak-anak telah dilatih untuk hening ketika  diminta  untuk mengekspresikan apa  yang dipikirkannya. Padahal jika  ilmu itu diibaratkan sebagai binatang buruan, maka membaca  adalah senjatanya  dan menulis adalah pengikatnya. Setiap manusia pastilah memiliki “rasa” (sense) untuk dibagikan kepada yang lain. perlu juga di sadari bahwa setiap manusia memiliki kemampuan akal – budi untuk memahami “rasa”-nya juga “rasa” yang lain (Habermas, 1990, Teknik dan Ilmu sebagai Ideologi). Menulis adalah salah satu cara mengungkapkan “rasa”. Manusia tidak akan menjadi manusia yang utuh jika dia tidak pernah melatih dirinya untuk mengungkapkan “rasa” dan belajar memahami “rasa – rasa” yang lain.

Untuk itu budaya menulis harus kita galakkan kembali, tidak usah dengan harapan yang terlalu muluk-muluk cukup dengan melalui komunitas/forum diskusi kecil akan tetapi punya kapasitas yang masif, sehingga output yang dihasilkan nanti bisa mempengaruhi orang lain untuk tergerak dalam menggalakan budaya menulis. Miris rasanya lorong-lorong kampus yang seharusnya nampak mahasiswa yang sedang berdiskusi tapi malah yang ada mahasiswa yang nongkrong sambil maen-game, dan juga tembok kampus yang seharusnya dihiasi karya, tulisan dan gagasan mahasiswa malah bertebaran iklan komersil. Kampus yang seharusnya digunakan untuk perang wacana dan beradu intelektualitas, yang ada malah perang politis demi kekuasaan semu. Kampus yang seharusnya  digunakan sebagai ruang untuk memperoleh pendidikan pada  kenyataanya  sekarang kampus hanya digunakan sebagai simbol gaya hidup semata.

Saya berharap nantinya menulis bisa menjadi candu bagi seluruh mahasiswa. Jika tulis-menulis telah menjadi bagian hidup seluruh elemen kampus serta didukung arpesiasi dari civitas akademik, dan juga berkomitmen tinggi untuk menjadikan kegiatan menulis menjadi tolok ukur kualitas dan keunggulan ilmu sebuah universitas, saya yakin mimpi untuk mewujudkan universitas kita bertaraf internasional akan terwujud cepat. Jika Rene Descartes terkenal dengan ”cogito er gosum” (aku berfiki,r maka aku ada)nya maka saya boleh bilang “aku menulis, maka aku ada”, itu berarti keintelektualan seseorang dapat ditunjukan lewat tulisanya. Bangkitlah para pelajar! Menulislah!. Orang idealis, kok tak menuangkan pemikiran ideologisnya dalam tulisan. Sungguh sayang!

Oiya, Saya menunggu tulisan-tulisan anda sekalian yang sedang membaca tulisan ini. Thnks. (fnchy)


*tulisan asli dimuat dalam Zine Komar #4 “Zine Media Alternatif”. Ditulis kembali dengan sedikit penambahan
 

Daftar Blog Saya