Pages

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Februari 2014

Mahasiswa : Organisasikan Komunitasmu, Jangan Memilih!

Oleh : Ahmad Finchy A.

Dalam demokrasi, harus ada yang menang dan kalah—Hillary Clinton
Tulisan ini berjudul sama dengan tulisan salah seorang teman yang digunakan untuk Propaganda pada Pemilu 2009 silam1. Bukan bermaksud menjiplak, kami hanya ingin mengadopsinya kedalam ranah yang lebih kecil yaitu mahasiswa. Tujuan dari pembicaraan singkat ini adalah untuk meyakinkan anda sekalian untuk lebih peduli terhadap kampus kita dan untuk menyadarkan teman-teman kita yang sedang tersesat2.

Dewasa ini, Demokrasi sangat marak sekali di kalangan mahasiswa, banyak hal yang kemudian disangkut pautkan dengan Demokrasi, mulai dari ranah diskusi, analisis isu/fenomena, menyematkanya untuk sebutan kampus, melabeli kelompok atau organisasi, sampai pada hal yang selalu diklaim dan digembar-gemborkan sebagai ‘Pesta Demokrasi’3. Lalu kenapa kita tidak merasa ada sesuatu yang menggembirakan, jika demokrasi adalah solusi dari segala masalah? Kenyataanya di kampuspun masih kerap terjadi kekerasan Ospek, saling boikot antar kelompok, perebutan kekuasaan, bahkan sampai saling berebut kader organisasi. Lalu, ada yang salah dengan ‘demokrasi’ kita? Apakah ada alternatif yang lebih memungkinkan?

Siapapun bisa berada di BEM maupun BLM
Adalah suatu kebohongan besar apabila ingin menjadi pengurus BEM atau BLM harus menjadi kader di ‘salah satu’ Organisasi terlebih dahulu, harus mengikuti sistem pemilihan dan harus punya suara terbanyak. Semua orang punya hak yang sama, Siapapun sebenarnya berhak untuk berpartisipasi dalam menjalankan sistem itu. Posisi-posisi di dalamnya haruslah dibagi secara adil di beberapa golongan agar bisa berjalan sebagai mana mestinya.

Sistem kita sangatlah tidak demokratis, kita semua sudah tahu susunan struktural di BEM dan BLM disusun dengan proporsi yang secara absurd sangatlah tidak adil. Hanyalah golongan ‘mereka’ saja yang ada disitu. Kalau begitu masih bisa berjalankah fungsi check and Balances di BLM? Masih pantaskah disebut Badan Eksekutif Mahasiswa? mulai sekarang sebut mereka Badan EKSKLUSIF Mahasiswa.

“Lihat, Kotak Suara—Demokrasi? Atau Pseudo Democracy?”
Apabila demokrasi adalah sesuatu yang berharga di mana telah banyak yang berjuang untuknya, maka kotak suara adalah sebuah pereduksian makna atas demokrasi itu sendiri, seseorang cukup memasukkan pilihan suaranya pada sebuah kotak, kemudian kembali pada aktivitasnya, tanpa sadar mereka telah dicurangi, bahwa sistim kotak suara sangat mudah sekali untuk dimanipulasi. Semuanya sudah di desain dari awal hingga akhir.

Dengan sistem Partai yang sebenarnya dibuat sebagai dalih untuk menutupi kecurangan, belum lagi pelibatan Partai MaBa (Mahasiswa Baru) hasil dari pengkaderan salah satu Organ Ekstra, alasanya pasti sangat klise untuk proses belajar. Padahal itu adalah suara terbesar yang bisa dengan mudah dimanfaatkan. Harusnya mereka masih baru belum pantas ikut dalam permainan karena mereka rentan dimanfaatkan.

Kampus yang disebut sebut sebagai miniatur negara banyak mengadopsi tentang Undang Undang dan segala peraturan yang ada di sistem NKRI. Diharapkan dengan adanya UU ini yang disahkan oleh dewan legislatif mahasiswa tidak ada kecurangan kecurangan dalam proses Pesta Demokrasi kampus dan menghasilkan pemimpin yang layak yang nantinya. Tetapi apa daya ketika suatu kelompok yang berkepentingan ingin menjadi penguasa dengan mengindahkan azas azas demokrasi, Semua sudah disiapkan dengan rapi dengan mengatur undang undang yang agar orang yang berkepentingan disini bisa kembali di kursi hangat ketua BEM dan BLM. Banyak kecacatan yang ditemukan dalam proses pengesahan Undang Undang baik dalam perihal pembentukan KPU sampai proses verifikasi bakal calon4. Dan sekali lagi, kita semua tahu itu, semua hasil dari kotak suara itu sangat tidak masuk akal dan semuanya sudah dipersiapkan. Inilah kampus kita, miniatur dari negara, jika mahasiswanya aja udah berbuat hal macam ini jangan salahkan kalau nanti negara kita juga ikut rusak.

Sistem kotak suara bukanlah sistem yang demokratis, karena tetap suara terbanyaklah yang menang, Kita menerima kebenaran secara mutlak bahwa kepentingan mayoritas lebih penting karena kita tidak pernah percaya bahwa hal tersebut akan mengancam kepentingan kita. Dalam hal ini mungkin konsensus bisa menjadi sebuah alternatif, Demokrasi konsensus tidak menuntut agar seseorang menerima kekuatan orang lain atas hidupnya, walaupun hal ini juga bukan berarti bahwa tiap orang tidak membutuhkan orang lain, walaupun dalam soalan efisiensi, hal seperti ini amatlah lamban, tetapi dalam segi kebebasan dan itikad baik, hal tersebut akan mendapat poin yang sangat tinggi. Demokrasi konsensus tidak memaksa orang untuk mengikuti pemimpin ataupun standarisasi nilai, melainkan membiarkan orang lain untuk memiliki tujuannya dan cara pencapaiannya sendiri5.

Kekerasan Ospek adalah Efek Rezim, maka janganlah Memilih!
"Masih terlalu banyak mahasiswa bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, menindas kalau
berkuasa, mementingkan golongan, ormas, teman seideologi, dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari SMA, Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi" (Soe Hok Gie)

Kenapa kekerasan pada ospek terus terjadi? Kenapa Ospek yang harusnya ‘Orientasi’ berubah menjadi ‘Ajang Senioritas’? Salah satunya adalah karena yang berkuasa masih tetap dari golongan yang sama, ini adalah efek berantai. Menurut filsuf John Dewey, sekarang ini, pendidikan sedang diancam oleh kekuatan besar yang salah satunya adalah kekuatan dari rezim-rezim otoriter (authoritarian regimes) yang ingin menciptakan manusia-manusia yang tunduk dan patuh (docile human) pada ideologi yang ada. Ospek berbasis kekerasan ini merupakan efek smping dari terlalu dominanya suatu ideologi yang memaksakan ideologi mereka yang paling benar, budaya kekerasan yang terus direproduksi, bersikap tidak Toleran dan juga Arogan. Karena budaya yang diturunkan sama, budaya ospek yang dulu pun tetap dilanggengkan hingga saat ini. Kalau yang berkuasa masih tetap sama dikuasai oleh satu golongan tertentu, jangan harap hal itu akan berakhir. Dengan ikut berpartisipasi dan memilih mereka maka anda juga ikut melanggengkan penindasan di kampus. Oleh karena itu, Keputusan untuk tidak memilih sangat tepat, karena keputusan untuk tidak memilih adalah termasuk suatu hal yang sangat Demokratis.

Mahasiswa yang menjadi Pengkhianat Mahasiswa
Masih ingatkah kalian dengan ‘Tri Dharma Perguruan Tinggi’?6 kenapa hal itu selalu diajarkan pada Mahasiswa Baru? Karena itulah yang menjadi tujuan, itulah jati diri kita. Kita diharapan untuk menjadi mahasiswa yang bisa lebih termotivasi dan sadar bahwa betapa pentingnya peranan kita di masyarakat, seperti dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Namun lihat keadaan sekarang, tidak satupun dari Tri Dharma yang terlaksana. Mereka lupa pada tujuan utama mahasiswa yang seharusnya mengisi ruang-ruang politis yang lebih berorientasi pada masyarakat, bukanya malah menceburkan diri pada ruang politik semu perebutan kekuasaan di kampus.

Tidak semua mahasiswa dapat menerapkan demokrasi secara substansial, mereka justru malah terjebak dalam makna simbolik semata dan menciptakan pseudo democracy (demokrasi semu). poin penting mengapa demokrasi diajukan oleh Robert Dahl (2001) bahwa demokrasi untuk menghindari tirani yang mengusung rezim kediktatoran yang dominatif. Namun potrem buram tirani tersaji dalam praktik-praktik politik kampus yang menggunakan embel-embel demokrasi. Sebagian mahasiswa larut dalam pergulatan politik kampus dengan cara-cara tirani yang anti-demokrasi. semua dilakukan hanya untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan di organisasi intra kampus. Kampus disulap menjadi lahan pertarungan kepentingan kekuasaan tanpa mengindahkan nilai-nilai substansial demokrasi. Demokrasi hanya didengungkan oleh mahasiswa diluar kampus ,namun didalam kampus nyanyian euphoria tirani semakin nyaring terdengar. Alunan melodi tirani berjalan dengan perilaku politik yang mengacu pada nafsu kekuasaan belaka. Mahasiswa sebagai agen demokrasi justru kembali menghidupkan tirani di kampus  dan membunuh demokrasi di kampus. Pembunuhan demokrasi dilakukan atas kepentingan kelompoknya dengan melakukan penindasan lewat pembatasan kesempatan politik atau permainan licik politik kampus. Logika persamaan yang menjadi spirit demokrasi terkikis oleh nafsu mencapai kekuasaan politik kampus. Dalam hal ini diam melihat tirani mahasiswa atas mahasiswa adalah merupakan penghianatan3.

Marilah sebagai mahasiswa yang sadar akan pentingnya peran mahasiswa di masyarakat, kita perlu mengembalikan tujuan mahasiswa yang harusnya memiliki manfaat nyata bagi masyarakat secara luas. Hidup Mahasiswa!!! Bangkitlah Kalian Kaum Intelektual !!!



Catatan :
  1. Katalis, “Organisasikan Komunitasmu, Jangan Memilih”. 2009
  2. Sangat cocok dengan keadaan mahasiswa sekarang yang semakin melenceng jauh dari jati dirinya.
  3. Istilah Pesta Demokrasi sering digunakan mahasiswa pada saat Pemilihan BEM dan BLM di kampus.
  4. Achmad, KOMAR Zine Edisi Februari 2013 “Pencideraan Demokrasi”. 2013
  5. Metode Konsensus biasa digunakan kelompok Anti-Otoritarian dalam mengambil suatu keputusan karena sifatnya yang lebih egaliter.
  6. Tri Dharma Perguruan tinggi meliputi : Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, serta Pengabdian pada Masyarakat.
  7. Ridho, Komar Zine Edisi Februari 2013 “Membunuh Demokrasi”. 2013 

Kamis, 05 September 2013

LOYALITAS

Oleh Unsiyah A. Hadey

Loyalitas, sebuah kata yang tak begitu asing ditelinga mahasiswa yang mengaku dirinya sebagai agent of change ini. Secara bahasa loyalitas berasal dari bahasa Inggris  Loyal yang memiliki arti setia.  Namun, secara istilah kita bisa mengartikan loyalitas adalah sikap patuh seseorang terhadap suatu sosok maupun sistem. Sistem/aturan disini bisa diartikan sebagai organisasi, kelompok, pekerjaan  maupun negara yang pada prinsipnya memiliki suatu aturan didalamnya.

Berbicara  mengenai loyalitas ini, tak asyik rasanya jika tidak memberikan sedikit contoh tentang loyalitas.

Contoh   ini berasal dari mantan presiden RI kita yang pertama yaitu Soekarno. Untuk masalah loyalitas Soekarno tak diragukan lagi beliau sangat setia membela Indonesia dan menentang keras segala bentuk penjajahan. Beliau tidak gentar untuk melawan musuh-musuhnya dengan tak-tik dan kerjasamanya dengan berbagai pemuda di Indonesia akhirnya dapat meraih kemerdekaan.

Contoh lainnya dalam suatu organisasi, yaitu misalnya anda terlibat dalam organisasi  X anda selalu ikut setiap kegiatan yang diadakan dan anda mengabdikan semua yang dibutuhkan oleh organisasi tersebut. Anda menganggap bahwasannya organisasi yang anda jalankan sekarang memiliki manfaat yang sangat besar terhadap anda. Mungkin, itu akan membuat anda melatih cara berbicara anda, mendapatkan teman maupun link yang banyak. Akan tetapi, Anda tidak saja berpikir secara demikian, anda juga harus berbuat yang maksimal kepada organisasi yang anda jalankan dan tentunya menjaga nama baik organisasi anda tersebut.

Naah! dari contoh tersebut, bisa disimpulkan sedikit bahwasannya faktor penentu seseorang menjadi loyal karena  lingkungan yang terjadi  dalam pekerjaan, kelompok, organisasi  maupun negara dan timbal balik yang ia dapatkan tersebut.

Namun, kenyataan yang saya lihat untuk sekarang ini, beberapa bahkan banyak juga loyalitas diartikan sebagai kesetiaan yang mengarah kepada person tidak pada suatu aturan. Lihat saja para pejabat saat ini banyak pejabat yang masuk  dalam jajaran partai tak terlepas dari sosok yang ditampilkan. Memang dalam politik sah - sah saja seseorang  menganggap dirinya loyal terhadap organisasi , kelompok maupun negara dikarenakan karena pemimipinnya . Hal ini, berarti loyalitas yang dipegang seseorang ini berdasarkan kualitas dari pemimpinnya. Namum loyalitas berdasar person ini, jika dalam suatu politik tersebut pemimpinnya menang maka yang menjadi pengikutnya akan menang juga (selamat), akan tetapi jika pemimpinnya kalah maka tumbanglah para pengikutnya hal ini karena didasarkan pada faktor person tadi.

Nah! jika begini pertanyaan pun muncul.  Apakah pemimpin juga membutuhkan loyalitas dari pengikutnya/anak buahnya? Jawabanya sangat tegas.. IYA.. karena  kembali lagi ke konsep awal loyalitas yang berdasarkan person  beriorientasi kepada orang.  Orang disini berarti tidak hanya pemimpinnya saja namun juga pengikutnya.  Misalnya saja dalam suatu negara seorang pemimpin walaupun sudah loyal dengan negara namun ia juga membutuhkan loyalitas dari pengikutnya agar mereka tidak mengkhianati apa yang sudah ia rencanakan (timbal balik).

Berarti dapat ditarik juga bahwasanya faktor penentu dari loyalitas bisa juga dari faktor pemimpinnya/ person .J

Dan lihatlah untuk sekarang ini lagi, Apakah orang-orang yang mengakunya memiliki pangkat dengan sebutan pejabat memiliki loyalitas terhadap negara ini. Saya kira “TIDAK” ( Hanya untuk beberapa saja). Bagaimana tidak, beberapa pejabat kita yang korupsi mulai dari sektor pajak, haji, pariwisata, bulog, dan masih banyak lainnya. Jika diteruskan seperti ini pertanyaan yang sangat besar muncul di benak saya adalah, Kenapa mereka tidak memiliki loyalitas padahal jelas-jelas mereka mendapatkan timbal balik yang mereka butuhkan? Apakah timbal balik itu kurang? Apakah faktor pemimpinnya tidak memberikan rasa loyalitas terhadapnya? Dan apakah faktor lingkungan yang mempengaruhi mereka untuk tidak bersikap loyalitas? Kalau begitu kenapa mereka menjadi pejabat? Pertanyaan terakhir bagi anda semua, Sudahkah anda loyal???

Semoga bermanfaat .. Trims.. Salam menulis - tak ada ruginya berbagi J selagi dalam hal positif.

Minggu, 04 Agustus 2013

DARI HATI KE HATI UNTUK SOSIOLOGI: SUATU KEINDAHAN KONTEMPLASI EMPIRICAL STUDY

Oleh : Imamulhuda Alsiddiq

Berbicara mengenai sosiologi, banyak sekali makna yang tersirat maupun tersurat di dalamnya. Dari berbagai makna tersebut, beberapa ciri khas yang mencolok dari seorang sosiolog adalah seorang yang mahir berbicara ataupun menulis, seorang yang paham betul bagaimana melakukan penelitian sosial, seorang yang bisa beradaptasi dengan lingkungan sosial manapun, seorang yang suka akan pergaulan, mampu menganalisa dan peka terhadap realitas sosial.

          Kuliah lapangan sepertinya dapat dikatakan menjadi wadah yang tepat untuk melatih setiap mahasiswa,  yaitu melatih kemampuan-kemampuan yang secara normatif harus dimiliki oleh seorang sosiolog. Kuliah lapangan, bukan merupakan kata yang asing lagi bagi mahasiswa sosiologi. Setiap mahasiswa yang sudah memilih jalan hidup untuk belajar di Sosiologi Unair, dalam sanubarinya sangat tertanam dengan kuat spirit-spirit kuliah lapangan, terlepas dari varietas kemampuan setiap individu yang berbeda-beda. Yang jelas kuliah lapangan merupakan darah daging bagi mahasiswa sosiologi. Metodologi penelitian, mulai dari teknis, sampai pada hal yang filosofis, dituntut agar dapat dikuasai dengan sebaik mungkin. Aplikasi seluruh kegiatan penelitian pun juga harus dikuasai secara komprehensif. Mulai dari perencanaan atau pre-penelitian, sampai pada pengolahan atau post-penelitian. Kesemuanya harus tersusun secara sistematis, dan mahasiswa sosiologi harus sangat paham akan hal tersebut.

        Karena penelitian sosial merupakan darah dan daging setiap insan sosiologis, nafas dari pujangga sosiologis, sudah sepatutnya sebagai seorang sociologist nantinya sangat paham betul bagaimana seharusnya melaksanakan sebuah penelitian. Saya ingin sedikit menceritakan bagaimana suasana hati saya, bagaimana isi sanubari saya berusaha untuk menyeruak keluar, terkait dengan kuliah lapangan, apa saja yang saya rasakan, dan tentunya seluruh mahasiswa mempunyai rasa masing-masing terkait kuliah lapangan ini. Secara khusus mungkin kuliah lapangan lah yang menjadi topik pembicaraan dalam tulisan ini, tapi sejatinya apa yang akan dibicarakan ini merupakan refleksi dari akumulasi pengalaman selama kuliah di sosiologi, mulai dari semester satu sampai pada semester akhir seperti yang sekarang saya jalani. Selama mengikuti perkuliahan, tanpa saya sadari ternyata sedikit demi sedikit, perlahan demi perlahan, ada pemahaman tertentu tentang realitas yang ada pada tataran mahasiswa sosiologi. Pemahaman tersebut hadir tanpa saya sadari, saya pun belum bisa memastikan apakah pemahaman yang tiba-tiba saja muncul di muka saya, tanpa permisi, itu benar adanya. Terlepas dari benar salahnya pemahaman ini, yang jelas pemahaman ini cukup membantu saya untuk mengungkap lebih jauh realitas yang sebenarnya melingkupi kita semua, saya sebagai mahasiswa sosiologi, dan pembaca sekalian, para sahabat seperjuangan saya, sahabat yang menempati sudut relung hati saya.

Hidup dengan Hidup: Reinterpretasi Hakikat Sosiologi
       Mengacu pada apa yang ditulis oleh Suyanto (2004) dalam bukunya “sosiologi teks pengantar dan terapan”, yang menjadi salah satu buku pegangan mahasiswa atupun pihak-pihak yang menaruh minatnya pada Sosiologi. Pada bab pertama buku tersebut disinggung mengenai bagaimana sebenarnya hakikat sosiologi itu. Secara umum dari segi hakikatnya, ilmu pengetahuan terdikotomikan menjadi dua kubu, yaitu ilmu pengetahuan sebagai ilmu murni, dan ilmu pengetahuan sebagai ilmu terapan. Suyanto (2004) kurang lebih menyatakan bahwa hakikatnya, sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang telah menempati kemapanannya dalam konstelasi pemikiran ilmu sosial, adalah ilmu yang memiliki dua sisi sekaligus, yaitu sosiologi sebagai ilmu murni, dan sosiologi sebagai ilmu terapan.

         Sebagai ilmu murni, sosiologi sebagaimana ilmu murni pada umumnya, yaitu bergerak dan menari demi perkembangan sosiologi itu sendiri. Sebagai ilmu terapan, sosiologi mempuyai andil besar untuk turut serta dalam proses pembangunan berkelanjutan, proses pembuatan kebijakan, rekayasa sosial dan lain sebagainya melalui rekomendasi-rekomendasi dari hasil-hasil kajiannya. Rekomendasi-rekomendasi ini tentunya perlu melalui proses-proses penelitian sosial yang sangat ketat. Sebuah korporasi misalnya, tanpa disadari institusi mereka dikepung oleh ribuan buruh yang sedang berdemo, para pendemo dengan bringasnya merusak segala infrastruktur korporasi tersebut. Apa yang terjadi pada korporasi tersebut merupakan objek kajian sosiologis, yang dari penelitian-penelitian sosial yang dilakukan oleh sosiologi, bisa memberikan suatu rekomendasi kepada direksi korporasi tentang apa yang seharusnya dilakukan agar dapat meredam amarah para karyawannya. Dan masih banyak lagi contoh sosiologi sebagai ilmu terapan.

     Sebenarnya apa yang sudah menjadi pemahaman para peminat sosiologi tentang bagaimana hakikat sosiologi sebagai ilmu murni ataupun terapan ini, merupakan suatu pemahaman yang klasik terhadap eksistensi sosiologi itu sendiri. Sosiologi secara de yure maupun de facto sudah barang tentu dengan pemaham di atas bahwa ilmu yang didapat dari belajar sosiologi ini akan melahirkan peneliti-peneliti sosial yang sangat berguna bagi banyak instansi/korporasi, dan yang terpenting adalah bermanfaat bagi bangsa dan negara. Dengan berbagai kemampuannya dalam memetakan realitas yang ada di sekelilingnya, kemudian membuat alur-alur penelitian yang sangat ketat dan sistematis, dan akhirnya akan memunculkan hasil-hasil penelitian yang dapat memberikan solusi kepada permasalahan tertentu, jelas merupakan nilai lebih yang didapat oleh insan yang mempelajari sosiologi ini.

      Out put sebagai seorang peneliti secara de yure memang dimiliki oleh seorang mahasiswa sosiologi nantinya. Akan tetapi yang perlu diperhatikan di sini, fakta dilapangan benar-benar menunjukkan bahwa tidak semua alumni sosiologi menjadi peneliti, tidak semua alumni sosiologi bisa menjadi seorang birokrat, tidak semua alumni sosiologi menjadi aktivis LSM, tidak semua alumni sosiologi menjadi seorang teknokrat, dan lain sebagainya. Yang intinya adalah ada beberapa alumni sosiologi yang sedikit berbeda jalan kariernya dari kareir yang sejatinya menjadi track bagi seorang sosiolog.

         Keberbedaan jalur sosiologi sebenarnya dengan jalur-jalur yang lain bukanlah menjadi persoalan yang harus diperdebatkan atau digunjingkan, bahkan bukan merupakan persoalan yang harus dipandang secara sarkastis. Dan penyebutan hal tersebut sebagai persoalan sebenarnya juga kurang cocok, karena hal tersebut bukanlah suatu persoalan. Keberbedaan tersebut merupakan hal yang sangat fungsional dan semua mahasiswa yang benar-benar terinternalisasi dalam hati dan sanubarinya nilai-nilai ke-sosiologi-an, maka ia akan bisa hidup, ia akan bisa berada dalam tipe masyarakat apapun, mulai masyarakat yang paling kiri, sampai pada masyarakat yang paling kanan, mereka akan bisa hidup bersama, selaras, dan seimbang. Ketika harus menjadi pegawai bank, seorang sosiolog bisa terlebur di dalamnya. Ketika harus menjadi seorang birokrat, seorang sosiolog, bisa menyatu dengan lingkungan sekitarnya, ketika harus menjadi seorang berandal pun, sosiolog bisa menempatkan diri sebagai seorang sosiolog (sociologist qua sociologist), yang mengerti dan memahami berbagai paradigma atau sudut pandang dalam melihat masyarakat, dan bagaimana mengaplikasikan variasi paradigma tersebut.[1]

         Hakikat sosiologi sebagai ilmu murni sekaligus ilmu terapan merupakan suatu hal yang tidak ada toleransi lagi, karena keberadaan kedua hakikat ini adalah tidak bisa tidak. Akan tetapi diantara kedua hakikat tersebut, di dalamnya terdapat hakikat dari suatu hakikat. Yaitu hakikat yang sifatnya lebih dalam, dan bisa dikatakan lebih suci. Yaitu bahwa sosiologi lebih dari ilmu murni maupun ilmu terapan, akan tetapi sosiologi adalah suatu nilai yang memberikan pelajaran kepada kita bagaimana untuk hidup, bagaimana hidup dalam kelompok, bagaimana hidup dalam masyarakat, bagaimana sosiologi ini benar-benar terinternalisasi dan termanifestasi menjadi salah satu armada hidup.

      Suatu contoh misalnya, beberapa waktu lalu, ada berita mengejutkan bahwa ada seorang nenek tua miskin, dan sangat kelaparan. Ia dengan sengaja mencuri dari sebuah korporasi hanya untuk sesuap nasi. Dan ternyata dalam usahanya untuk mengisi perutnya yang sedang kelaparan ini, nenek malang tersebut tertangkap dan di meja hijaukan. Terlepas dari bagaimana akhir cerita tersebut, seorang sosiolog apapun profesinya, seyogyanya bisa melihat realitas tersebut dari berbagai sudut pandang. Ada banyak sudut pandang yang menjadi perhatian dari sosiologi ini, dan sudah sangat mashur bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan berparadigma ganda. Sosiolog bisa melihat dan menyatakan bahwa nenek terseut salah dan harus dihukum karena mencuri. Akan tetapi sebagai seorang sosiolog, tidaklah hanya menggunakan satu paradigma saja. Masih ada paradigma lain yang bisa digunakan. Sosiolog, dengan paradigma yang lain, akan melihat dari sudut pandang yang berbeda. Nenek tersebut memang salah jika dilihat dari satu paradigma di atas, tapi ada hal-hal yang perlu dipahami lebih dalam kenapa nenek tersebut sampai-sampainya mencuri, yaitu hal yang tidak terlihat atau tidak nampak, tapi hal itu nyata adanya, dan inilah hal yang harus dipahami.

       Contoh lain pun juga dapat diketengahkan di sini. Malam keakraban misalnya, suatu ajang orientasi mahasiswa baru prodi sosiologi. Setiap ajang-ajang seperti ini, tentunya sangat membutuhkan kepanitiaan tertentu dalam melaksanakannya. Biasanya dua angkatan di atas mahasiswa baru mendapatkan kesempatan untuk menjadi penyelenggara acara tersebut. Ketika angkatan 2013 menjadi mahasiswa baru, angkatan 2011 lah yang menjadi panitia, begitulah kira-kira budaya yang ada di Sosiologi Universitas Airlangga. Setiap angkatan yang bertugas untuk menyelenggarakan acara MK ini, dari tahun ke tahun selalu terdapat kontradiksi-kontradiksi di dalamnya. Dari tahun ke tahun, selalu terdapat pro kontra di dalamnya. Dari tahun ke tahun pun, selalu ada konflik internal yang terjadi terkait penyelenggaraan MK ini, perbedaan pendapat selalu mengiringi proses penyelenggaraannya. Ada kelompok-kelompok yang sangat pro dengan adanya MK ini. Ada juga kelompok-kelompok yang pro pula tapi tidak sependapat dengan kelompok yang pertama, ada  kelompok yang benar-benar kontra, sehingga apapun keinginan dari kelompok yang pro, benar-benar tidak di gubrisnya, bahkan ada beberapa pihak yang sangat menentang kelompok pro. Sebagai sosiolog atau calon sosiolog, yang kebetulan menjadi aktor dalam kelompok-kelompok di atas, bisa memaksakan pendapatnya untuk dilaksanakan bersama, bisa juga memahami realitas yang terjadi di kelompok yang lain, dan lain sebagainya. Yang jelas seluruh pengetahuan, pemahaman, seluruh nilai-nilai sosiologis yang sudah dipelajari, seyogyanya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh setiap insan sosiolog. Ajang MK (Malam Keakraban), dapat dijadikan miniatur untuk benar-benar menjadi sosiolog yang bisa menempatkan diri sebagai seorang sosiolog (sociologist qua sociologist).

         Kurang pantas kiranya jika seorang sosiolog tidak berlaku sebagai seorang sosiolog. Kurang pantas kiranya jika sosiolog menempatkan diri pada warna hitam maupun warna putih, karena ada yang menyatakan bahwa sosiologi adalah abu-abu, tidak memandang hitam, dan tidak memandang putih. Lantas apakah dengan nilai yang demikian bisa dijadikan patokan seorang sosiolog untuk membenarkan hal yang dianggap salah oleh khalayak? Abu-abu bukan berarti bebas untuk menjamah warna apapun, akan tetapi abu-abu di atas bermakna bisa menempatkan diri se netral mungkin agar dapat melihat realitas sebagaimana yang terlihat, yaitu apa adanya. Dengan menjadi abu-abu, maka ia dapat melihat hitam, ia pun dapat melihat putih, bahkan warna-warna yang lain.

          Singkatnya, hakikat sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, adalah ada pada bagaimana nilai-nilai sosiologi ini diterapkan atau diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, apapun warna kehidupannya, bagaimanapun rasa kehidupannya. Apapun nanti karier yang dijalani oleh mahasiswa sosiologi setelah lulus nantinya, nilai-nilai sosiologi yang sudah dipelajari sekian tahun lamanya dapat diterapkan dalam bentuk kehidupan yang bagaimanapun, dalam kondisi apapun. Apapun yang sudah dipelajari selama kuliah di jurusan sosiologi, nilai-nilai tentang struktural fungsional, nilai-nilai tentang teori konflik, nilai-nilai tentang teori-teori humanis, kesemuanya bisa diterapkan pada diri lingkungan sosial dimana sosiolog nanti hidup, dan tentunya pada diri sosiolog sendiri.

Kuliah Lapangan: Cerminan Dinamisasi Masyarakat
        Kuliah lapangan, merupakan makanan dan minuman sehari-hari insan yang mengenyam pendidikan di Sosiologi Unair. Ada kuliah lapangan perdana yang diberi nama oleh pendahulu kita dengan TIPSOS (Tipologi Sosial), dilanjutkan dengan SOSDES (Sosiologi Pedesaan). Ada juga Sosiologi Perkotaan, Metode Penelitian Kualitatif, Metode penelitian Kuantitatif, Stratifikasi Sosial, Sosiologi Kependudukan, CSR, dan banyak pekerjaan lapangan lainnya. Kata Lapangan sepertinya menjadi identitas tersendiri bagi Sosiologi. Untuk masalah Lapangan, bisa dikata mahasiswa sosiologi ahli dibidangnya. Mulai pengurusan perizinan, menyusun konsep, membuat strategi dan taktik, manajemen kelompok, dan lain sebagainya. Kuliah lapangan adalah entitas yang bernuansa seni, membutuhkan nalar dan daya seni tersendiri. Artinya untuk memahami secara betul, meresapi segala sesuatu terkait kuliah lapangan ini, perlu latihan berkali-kali layaknya seseorang yang ingin mahir bermain seni, latihanlah yang menjadi bumbu utamanya.

    Tipologi Sosial sebagai kuliah lapangan perdana bagi mahasiswa sosiologi unair, menyuguhkan berbagai pengalaman yang tiada tara rasanya. Setiap orang yang terlibat dalam kuliah lapangan ini dapat merasakan detik demi detik pengalaman yang sangat berarti tersebut. Awal pembentukan kelompok, menjadi pengalaman pertama di Tipologi Sosial ini. Kelompok menjadi identitas tersendiri dalam sosiologi. Sebagai ilmu yang mempelajari tentang masyarakat dan kelompok sosial, kelompok awal yang dibentuk kala Tipologi Sosial merupakan miniatur yang dapat dipakai untuk belajar memahami kelompok yang lebih besar. Paling tidak di sana setiap mahasiswa dapat belajar untuk hidup secara berkelompok, hidup di tengah-tengah masyarakat. Seperti apa yang tersirat dalam arti sosiologi itu sendiri, bahwa orang yang mempelajari sosiologi, seakan-akan dituntut untuk bisa hidup dan beradaptasi pada kelompok atau masyarakat macam apapun. Dan kelompok pada Tipologi Sosial ini menjadi miniatur awal untuk belajar akan hal tersebut. Belajar hidup berkelompok, hidup dalam masyarakat, belajar beradaptasi, belajar me-manage konflik yang terjadi dalam kelompok, belajar me-resolusi jikala ada konflik yang berpotensi merusak, belajar menghargai orang lain sebagai salah satu identitas seorang sosiolog nantinya, dan belajar-belajar yang lainnya. Yang intinya pengalaman adalah guru yang paling berharga dalam perjalanan hidup setiap orang, dan melalui Tipologi Sosial itulah setiap mahasiswa belajar berkelompok melalui suatu pengalaman.

    Setelah Tipologi Sosial, mahasiswa kemudian dihadapkan dengan kuliah lapangan selanjutnya yang berjudulkan Sosiologi Pedesaan. Tidak hanya Sosiologi Pedesaan, kuliah lapangan pun menjadi identitas dari beberapa matakuliah di hampir setiap semester di Sosiologi. Hampir setiap semester rasanya kurang pas jika Sosiologi tidak menyelenggarakan kuliah lapangan. Dan berkelompok menjadi ciri khas tersendiri dari kuliah lapangan Sosiologi. Kenapa harus berkelompok? Sebagaimana yang sedikit disinggung di atas, bahwa setiap tugas yang dikerjakan secara kelompok, terlebih lagi tugas yang mengatasnamakan kuliah lapangan, merupakan cerminan atau miniatur dari masyarakat yang lebih besar. Di setiap masyarakat, apapun itu, tidak akan pernah terlepas dari yang namanya dinamika. Setiap orang mempunyai kapasitas masing-masing, setiap orang mempunyai intelegensia, sikap mental, persepsi, nilai yang dianut, pengalaman, pemahaman yang berbeda-beda. Keberbedaan pemahaman dan lain sebagainya tersebut tidak jarang akan menimbulkan suatu gesekan atau persinggungan tersendiri. Mengutip apa yang menjadi buah dari pemikiran seorang filusuf Thomas Hobbes bahwa “homo momini lupus”, manusia adalah srigala bagi sesamanya, keadaan ini nantinya akan mendorong adanya “bellum omnium contra omnes” perang semua melawan semua. Sudah wajar kiranya dalam kelompok terdapat suatu perselisihan, karena selain sebagai wujud dari perbedaan setiap anggotanya, pertikaian tersebut sepertinya merupakan salah satu wujud dari adanya manusia itu sendiri. Oleh karena itulah setiap orang dituntut untuk bisa beradaptasi dengan situasi macam apapun, akan tetapi tidak semua orang dapat melakukannya. Dan di Sosiologi, melalui kelompok-kelompok semacam itu misalnya setiap mahasiswa diajari secara tidak langsung mengenai bagaimana hidup di dalam masyarakat nantinya. Karena itulah dapat dikatakan bahwa kuliah lapangan melalui tugas-tugas kelompoknya merupakan cerminan dari masyarakat yang lebih besar.

      Selain itu, sebagai seorang sosiolog minimal harus memprektekkan apa-apa pengetahuan yang telah didapatkan dalam kuliah, di kehidupan sehari-harinya. Nilai plus yang dimiliki oleh mahasiswa sosiologi selain belajar mengenai hard skill, soft skill dan life skill dalam kuliah lapangan, mereka juga bisa mempraktekkan segala teori-teori sosial yang telah dipelajarinya dalam kelompok-kelompok semacam itu, kelompok kuliah lapangan misalnya. Kelompok-kelompok yang semacam itulah, atau dalam moment-moment apapun yang di dalamnya terdapat dinamisasi layaknya dinamisasi yang terjadi di masyarakat, dapat digunakan sebagai ajang untuk mempraktekkan ilmu yang telah didapat. Teori-teori yang telah dipelajari sedemikian rupa dapat digunakan sebagai pisau analisis untuk mengkaji kelompok-kelompok kecil yang ada di sekelilingnya, terlebih analisa tersebut dapat membuahkan hasil sehingga dapat diketemukan solusi pemecahannya. Inilah kenapa kita harus patut untuk bersyukur bisa dibesarkan di Sosiologi.




[1] Untuk pemahaman lebih holistik dan mendalam lagi, silahkan baca buku hand book of qualitative research karangan Denzin and Lincoln yang di dalamnya diterangkan mengenai berbagai macam perspektif dalam melihat realitas sosial. baca juga buku karangan Hanneman Samuel yang secara ringkas dan lugas mensintesakan dua perspektif yang saling bertolak belakang menjadi satu, yakni perspektif fakta sosial/positivisme dan perspektif definisi sosial/konstruktivisme.
 

Daftar Blog Saya