Pages

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Agustus 2013

MAHASISWA SEBAGAI PEMEGANG TONGKAT ESTAFET DIMASA DEPAN

Oleh : Anis Mubasyiroh

Dalam pidatonya Ir. Soekarno mengatakan: “Berikan aku seribu orang tua, maka akan aku pindahkan semeru dari akarnya. Dan berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia“. Dari kalimat tersebut, kita dapat memaknai bahwa betapa pentingnya peran pemuda sebagai generasi penerus yang memegang tongkat estafet dalam kurun waktu beberapa puluh tahun waktu kedepan.

Untuk menghadapi masa yang akan datang itu, pemerintah merancang sistem pendidikan sedemikian rupa agar menghasilkan output yang sesuai dengan apa yang menjadi harapan bangsa Indonesia terhadap kaum muda khusunya mahasiswa.
Mahasiswa dianggap sebagai kaum intelektual, para pemuda yang terdidik, serta terbentuk menjadi insan yang siap berperan di masa mendatang, dan akan menggantikan posisi penting dalam kehidupan ini. Mahasiswa benar-benar menjadi harapan tanah air Indonesia menuju ke arah yang lebih baik dari kondisi saat ini, harapan itu sangat besar. Harapan itu tidak akan muncul pada orang-orang yang tidak dapat dipercaya.

Sebagai orang yang telah dipercaya untuk memegang tongkat estafet bangsa Indonesia dimasa yang akan datang, kita harus benar-benar memanfaatkan kesempatan itu dengan sungguh-sungguh. Siapa lagi yang akan diamanahi jika kaum muda itu tidak sanggup  untuk mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik dari seluruh aspek kehidupan ini.

Harapan yang besar itu tidak menjadikan seluruh mahasiswa sadar akan peran yang harus di emban selama menjadi mahasiswa. Dengan mengamati potret mahasiswa saat ini menunjukkan realitas yang berbanding terbalik dengan yang diharapkan, sehingga menimbulkan kekhawatiran.

Jumlah mahasiswa Indonesia saat ini sekitar 4,8 juta orang. Bila dihitung terhadap populasi penduduk berusia 19-24 tahun, maka angka partisipasi kasarnya baru 18,4 persen. (kompas, 2011). Hal ini menunjukkan tidak banyak kesempatan yang dimiliki kaum muda untuk menikmati pendidikan di perguruan tinggi.

Mahasiswa sebagai motor penggerak perubahan. mahasiswa dikenal dengan jiwa pengorbanan yang tak kenal lelah mempertahankan idealismenya, yang lebih substansial lagi adalah mahasiswa mampu berada sedikit di atas kelas masyarakat karena dengan kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya sebagai insan yang menggunakan daya nalar yang tinggi dan kritis  terhadap berbagai persoalan terkait dengan kemajuan bangsanya.

Melihat potensi mahasiswa yang begitu besar, tidak sepantasnyalah peran mahasiswa yang hanya mementingkan kebutuhan pribadi saja. Melainkan harus tetap berkontribusi terhadap bangsa dan negaranya, bukan menjadi mahasiswa yang tanggung jawabnya hanya sebatas study oriented.

Pernah ada pengalaman selama mengadakan penelitian di sebuah pedesaan, yang masyarakatnya dapat dikategorikan menuju arah transisi dari segi pola berpikirnya. Ketika kita datang untuk mengadakan penelitian. Seorang kepala desa beserta perangkatnya langsung menyambut kita dengan penuh antusias dan sangat menghargai kehadiran kita.

Mereka berharap dengan status kita yang menjadi mahasiswa dapat mengubah keadaan masyarakat dengan permasalahan yang begitu kompleks, terutama di bidang sosial ekonominya. Mereka berpesan agar sungguh-sungguh selama menjadi mahasiswa, agar kelak sukses dan bisa membantu  masyarakat kecil seperti kita yang tak didengar aspirasinya.

Dari sini saya merasa sangat kecewa terhadap diri saya sendiri, karena belum menggunakan kesempatan selama menjadi mahasiswa dengan sungguh-sungguh, dan saya masih tergolong menjadi mahasiswa yang study oriented serta belum berkontribusi kepada masyarakat. Semoga dengan ini, kita bisa menjadi pembelajaran bagi kita, agar kita selalu instropeksi dan memperbaiki keadaan mahasiswa saat ini.

Kehidupan tidak bersifat statis, dengan mengamati realitas sosial saat ini merepresentasikan potret mahasiswa mengalami pergeseran nilai-nilai dan tujuan dalam belajar. Mahasiswa kini tak lagi idealis seperti dulu, yang memainkan perannya dalam belajar dan mengabdi pada masyarakat. Saat ini mahasiswa tidak menggunakan kesempatan belajar di perguruan tinggi dengan sungguh-sungguhh, yang lebih parah lagi adalah dan lebih mengutamakan kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup, dengan menghabiskan masa mudanya, uang ataupun materi hanya untuk  menuruti keinginan.

Kekerasan juga seringkali menjadi alternatif yang memang dirancang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Demikian juga dalam bidang ekonomi-politik, ketimpangan ekonomi yang melatarbelakangi masyarakat dapat menjadi pemicu terjadinya kekerasan mahasiswa. Ketika harga-harga sembako atau BBM naik, misalnya, segenap elemen mahasiswa merasa harus melakukan sesuatu untuk mencegah kondisi ekonomi di masyarakat semakin buruk. Namun dengan cara yang seperti itu yang terjadi hanyalah memperburuk keadaan, seperti perusakan, kerusuhan dan kekerasan yang dilakukannya.

Dalam perebutan kekuasaan di lingkungan internal mahasiswa, seperti Pemilu Raya (Pemira) di kampus, mahasiswa melakukan upaya mobilisasi di kalangan mereka untuk mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya. Mobilisasi itu menggunakan taktik diantaranya dengan pemaksaan, ancaman, teror hingga kekerasan secara fisik.
Perilaku tersebut sangat tidak mencerminkan generasi muda yang diharapkan oleh bangsa Indonesia. Namun  tak semua mahasiswa seperti itu, masih banyak harapan untuk mahasiswa yang benar-benar mampu menggunakan kesempatan dalam belajar dan lebih peduli pada masyarakat seperti kita. Kita harus bisa menjadi mahasiswa yang berfungsi secara ideal, yaitu :

Agent of Change : Mahasiswa sebagai agen perubahan, yang mempunyai fungsi ideal, tidak hanya menggunakan ilmunya untuk dirinya sendiri. Namun, harus mampu mengajak dan memengaruhi orang-orang disekelilingnya untuk mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik dalam segala hal melalui pemikiran dan daya kritisnya yang kuat.

Iron Stock : peran mahasiswa yang tak kalah penting adalah mahasiswa dengan ketangguhan idealismenya akan menjadi pengganti generasi-generasi sebelumnya, tentu dengan kemampuan dan akhlak yang mulia. Peran oraganisasi kampus dapat memengaruhi kualitas mahasiswa, dengan adanya kaderisasi dan penanaman nilai yang baik akan menjadikan kualitas mahasiswa yang siap untuk menggantikan peran penting dikehidupan mendatang. Selain itu, mempelajari kesalahan-kesalahan pada generasi masa sebelumnya adalah sangat penting, agar kedepannya dapat dijadikan evaluasi untuk pengembangan diri.

Social Control : Peran mahasiswa sebagai kontrol sosial terjadi ketika ada kebijakan pemerintah yang kontra dengan kehendak masyarakat luas. Mahasiswa dengan gagasan dan ilmunya memiliki peranan menjaga dan memperbaiki nilai dan norma sosial dalam masyarakat. Mahasiswa harus menumbuhkan jiwa sosial yang peduli pada keadaan rakyat yang mengalami penderitaan, ketidakadilan, dan ketertindasan. Kontrol sosial dapat dilakukan ketika pemerintah mengeluarkan suatu kebijakan yang merugikan rakyat, maka dari itu mahasiswa bergerak sebagai perwujudan kepedulian terhadap rakyat.

Pergerakan mahasiswa bukan hanya sekedar turun ke jalan saja, melainkan harus lebih substansial lagi yaitu diskusi, kajian dan lain sebagainya. Bukan hanya itu, sifat peduli terhadap rakyat juga dapat ditunjukkan ketika mahasiswa dapat memberikan bantuan baik secara moril dan materil bagi siapa saja yang membutuhkannya.

Moral force : kekuatan moral adalah fungsi yang utama dalam peran mahasiswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mahasiswa dalam kehidupannya dituntut untuk dapat memberikan contoh dan teladan yang baik dan benar bagi masyarakat luas. Karena mahasiswa adalah bagian dari masyarakat sebagai kaum intelektual yang memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

Semoga kita termasuk kaum muda yang dapat memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya, bersungguh-sungguh dalam mengemban amanah. Hidup tidak untuk main-main, dan senantiasa berbenah diri untuk bangsa Indonesia yang lebih baik dan berdaya. Sesuai dengan Tuhan : “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Q.S. Al An’aam [6]: 3).

DARI HATI KE HATI UNTUK SOSIOLOGI: SUATU KEINDAHAN KONTEMPLASI EMPIRICAL STUDY

Oleh : Imamulhuda Alsiddiq

Berbicara mengenai sosiologi, banyak sekali makna yang tersirat maupun tersurat di dalamnya. Dari berbagai makna tersebut, beberapa ciri khas yang mencolok dari seorang sosiolog adalah seorang yang mahir berbicara ataupun menulis, seorang yang paham betul bagaimana melakukan penelitian sosial, seorang yang bisa beradaptasi dengan lingkungan sosial manapun, seorang yang suka akan pergaulan, mampu menganalisa dan peka terhadap realitas sosial.

          Kuliah lapangan sepertinya dapat dikatakan menjadi wadah yang tepat untuk melatih setiap mahasiswa,  yaitu melatih kemampuan-kemampuan yang secara normatif harus dimiliki oleh seorang sosiolog. Kuliah lapangan, bukan merupakan kata yang asing lagi bagi mahasiswa sosiologi. Setiap mahasiswa yang sudah memilih jalan hidup untuk belajar di Sosiologi Unair, dalam sanubarinya sangat tertanam dengan kuat spirit-spirit kuliah lapangan, terlepas dari varietas kemampuan setiap individu yang berbeda-beda. Yang jelas kuliah lapangan merupakan darah daging bagi mahasiswa sosiologi. Metodologi penelitian, mulai dari teknis, sampai pada hal yang filosofis, dituntut agar dapat dikuasai dengan sebaik mungkin. Aplikasi seluruh kegiatan penelitian pun juga harus dikuasai secara komprehensif. Mulai dari perencanaan atau pre-penelitian, sampai pada pengolahan atau post-penelitian. Kesemuanya harus tersusun secara sistematis, dan mahasiswa sosiologi harus sangat paham akan hal tersebut.

        Karena penelitian sosial merupakan darah dan daging setiap insan sosiologis, nafas dari pujangga sosiologis, sudah sepatutnya sebagai seorang sociologist nantinya sangat paham betul bagaimana seharusnya melaksanakan sebuah penelitian. Saya ingin sedikit menceritakan bagaimana suasana hati saya, bagaimana isi sanubari saya berusaha untuk menyeruak keluar, terkait dengan kuliah lapangan, apa saja yang saya rasakan, dan tentunya seluruh mahasiswa mempunyai rasa masing-masing terkait kuliah lapangan ini. Secara khusus mungkin kuliah lapangan lah yang menjadi topik pembicaraan dalam tulisan ini, tapi sejatinya apa yang akan dibicarakan ini merupakan refleksi dari akumulasi pengalaman selama kuliah di sosiologi, mulai dari semester satu sampai pada semester akhir seperti yang sekarang saya jalani. Selama mengikuti perkuliahan, tanpa saya sadari ternyata sedikit demi sedikit, perlahan demi perlahan, ada pemahaman tertentu tentang realitas yang ada pada tataran mahasiswa sosiologi. Pemahaman tersebut hadir tanpa saya sadari, saya pun belum bisa memastikan apakah pemahaman yang tiba-tiba saja muncul di muka saya, tanpa permisi, itu benar adanya. Terlepas dari benar salahnya pemahaman ini, yang jelas pemahaman ini cukup membantu saya untuk mengungkap lebih jauh realitas yang sebenarnya melingkupi kita semua, saya sebagai mahasiswa sosiologi, dan pembaca sekalian, para sahabat seperjuangan saya, sahabat yang menempati sudut relung hati saya.

Hidup dengan Hidup: Reinterpretasi Hakikat Sosiologi
       Mengacu pada apa yang ditulis oleh Suyanto (2004) dalam bukunya “sosiologi teks pengantar dan terapan”, yang menjadi salah satu buku pegangan mahasiswa atupun pihak-pihak yang menaruh minatnya pada Sosiologi. Pada bab pertama buku tersebut disinggung mengenai bagaimana sebenarnya hakikat sosiologi itu. Secara umum dari segi hakikatnya, ilmu pengetahuan terdikotomikan menjadi dua kubu, yaitu ilmu pengetahuan sebagai ilmu murni, dan ilmu pengetahuan sebagai ilmu terapan. Suyanto (2004) kurang lebih menyatakan bahwa hakikatnya, sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang telah menempati kemapanannya dalam konstelasi pemikiran ilmu sosial, adalah ilmu yang memiliki dua sisi sekaligus, yaitu sosiologi sebagai ilmu murni, dan sosiologi sebagai ilmu terapan.

         Sebagai ilmu murni, sosiologi sebagaimana ilmu murni pada umumnya, yaitu bergerak dan menari demi perkembangan sosiologi itu sendiri. Sebagai ilmu terapan, sosiologi mempuyai andil besar untuk turut serta dalam proses pembangunan berkelanjutan, proses pembuatan kebijakan, rekayasa sosial dan lain sebagainya melalui rekomendasi-rekomendasi dari hasil-hasil kajiannya. Rekomendasi-rekomendasi ini tentunya perlu melalui proses-proses penelitian sosial yang sangat ketat. Sebuah korporasi misalnya, tanpa disadari institusi mereka dikepung oleh ribuan buruh yang sedang berdemo, para pendemo dengan bringasnya merusak segala infrastruktur korporasi tersebut. Apa yang terjadi pada korporasi tersebut merupakan objek kajian sosiologis, yang dari penelitian-penelitian sosial yang dilakukan oleh sosiologi, bisa memberikan suatu rekomendasi kepada direksi korporasi tentang apa yang seharusnya dilakukan agar dapat meredam amarah para karyawannya. Dan masih banyak lagi contoh sosiologi sebagai ilmu terapan.

     Sebenarnya apa yang sudah menjadi pemahaman para peminat sosiologi tentang bagaimana hakikat sosiologi sebagai ilmu murni ataupun terapan ini, merupakan suatu pemahaman yang klasik terhadap eksistensi sosiologi itu sendiri. Sosiologi secara de yure maupun de facto sudah barang tentu dengan pemaham di atas bahwa ilmu yang didapat dari belajar sosiologi ini akan melahirkan peneliti-peneliti sosial yang sangat berguna bagi banyak instansi/korporasi, dan yang terpenting adalah bermanfaat bagi bangsa dan negara. Dengan berbagai kemampuannya dalam memetakan realitas yang ada di sekelilingnya, kemudian membuat alur-alur penelitian yang sangat ketat dan sistematis, dan akhirnya akan memunculkan hasil-hasil penelitian yang dapat memberikan solusi kepada permasalahan tertentu, jelas merupakan nilai lebih yang didapat oleh insan yang mempelajari sosiologi ini.

      Out put sebagai seorang peneliti secara de yure memang dimiliki oleh seorang mahasiswa sosiologi nantinya. Akan tetapi yang perlu diperhatikan di sini, fakta dilapangan benar-benar menunjukkan bahwa tidak semua alumni sosiologi menjadi peneliti, tidak semua alumni sosiologi bisa menjadi seorang birokrat, tidak semua alumni sosiologi menjadi aktivis LSM, tidak semua alumni sosiologi menjadi seorang teknokrat, dan lain sebagainya. Yang intinya adalah ada beberapa alumni sosiologi yang sedikit berbeda jalan kariernya dari kareir yang sejatinya menjadi track bagi seorang sosiolog.

         Keberbedaan jalur sosiologi sebenarnya dengan jalur-jalur yang lain bukanlah menjadi persoalan yang harus diperdebatkan atau digunjingkan, bahkan bukan merupakan persoalan yang harus dipandang secara sarkastis. Dan penyebutan hal tersebut sebagai persoalan sebenarnya juga kurang cocok, karena hal tersebut bukanlah suatu persoalan. Keberbedaan tersebut merupakan hal yang sangat fungsional dan semua mahasiswa yang benar-benar terinternalisasi dalam hati dan sanubarinya nilai-nilai ke-sosiologi-an, maka ia akan bisa hidup, ia akan bisa berada dalam tipe masyarakat apapun, mulai masyarakat yang paling kiri, sampai pada masyarakat yang paling kanan, mereka akan bisa hidup bersama, selaras, dan seimbang. Ketika harus menjadi pegawai bank, seorang sosiolog bisa terlebur di dalamnya. Ketika harus menjadi seorang birokrat, seorang sosiolog, bisa menyatu dengan lingkungan sekitarnya, ketika harus menjadi seorang berandal pun, sosiolog bisa menempatkan diri sebagai seorang sosiolog (sociologist qua sociologist), yang mengerti dan memahami berbagai paradigma atau sudut pandang dalam melihat masyarakat, dan bagaimana mengaplikasikan variasi paradigma tersebut.[1]

         Hakikat sosiologi sebagai ilmu murni sekaligus ilmu terapan merupakan suatu hal yang tidak ada toleransi lagi, karena keberadaan kedua hakikat ini adalah tidak bisa tidak. Akan tetapi diantara kedua hakikat tersebut, di dalamnya terdapat hakikat dari suatu hakikat. Yaitu hakikat yang sifatnya lebih dalam, dan bisa dikatakan lebih suci. Yaitu bahwa sosiologi lebih dari ilmu murni maupun ilmu terapan, akan tetapi sosiologi adalah suatu nilai yang memberikan pelajaran kepada kita bagaimana untuk hidup, bagaimana hidup dalam kelompok, bagaimana hidup dalam masyarakat, bagaimana sosiologi ini benar-benar terinternalisasi dan termanifestasi menjadi salah satu armada hidup.

      Suatu contoh misalnya, beberapa waktu lalu, ada berita mengejutkan bahwa ada seorang nenek tua miskin, dan sangat kelaparan. Ia dengan sengaja mencuri dari sebuah korporasi hanya untuk sesuap nasi. Dan ternyata dalam usahanya untuk mengisi perutnya yang sedang kelaparan ini, nenek malang tersebut tertangkap dan di meja hijaukan. Terlepas dari bagaimana akhir cerita tersebut, seorang sosiolog apapun profesinya, seyogyanya bisa melihat realitas tersebut dari berbagai sudut pandang. Ada banyak sudut pandang yang menjadi perhatian dari sosiologi ini, dan sudah sangat mashur bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan berparadigma ganda. Sosiolog bisa melihat dan menyatakan bahwa nenek terseut salah dan harus dihukum karena mencuri. Akan tetapi sebagai seorang sosiolog, tidaklah hanya menggunakan satu paradigma saja. Masih ada paradigma lain yang bisa digunakan. Sosiolog, dengan paradigma yang lain, akan melihat dari sudut pandang yang berbeda. Nenek tersebut memang salah jika dilihat dari satu paradigma di atas, tapi ada hal-hal yang perlu dipahami lebih dalam kenapa nenek tersebut sampai-sampainya mencuri, yaitu hal yang tidak terlihat atau tidak nampak, tapi hal itu nyata adanya, dan inilah hal yang harus dipahami.

       Contoh lain pun juga dapat diketengahkan di sini. Malam keakraban misalnya, suatu ajang orientasi mahasiswa baru prodi sosiologi. Setiap ajang-ajang seperti ini, tentunya sangat membutuhkan kepanitiaan tertentu dalam melaksanakannya. Biasanya dua angkatan di atas mahasiswa baru mendapatkan kesempatan untuk menjadi penyelenggara acara tersebut. Ketika angkatan 2013 menjadi mahasiswa baru, angkatan 2011 lah yang menjadi panitia, begitulah kira-kira budaya yang ada di Sosiologi Universitas Airlangga. Setiap angkatan yang bertugas untuk menyelenggarakan acara MK ini, dari tahun ke tahun selalu terdapat kontradiksi-kontradiksi di dalamnya. Dari tahun ke tahun, selalu terdapat pro kontra di dalamnya. Dari tahun ke tahun pun, selalu ada konflik internal yang terjadi terkait penyelenggaraan MK ini, perbedaan pendapat selalu mengiringi proses penyelenggaraannya. Ada kelompok-kelompok yang sangat pro dengan adanya MK ini. Ada juga kelompok-kelompok yang pro pula tapi tidak sependapat dengan kelompok yang pertama, ada  kelompok yang benar-benar kontra, sehingga apapun keinginan dari kelompok yang pro, benar-benar tidak di gubrisnya, bahkan ada beberapa pihak yang sangat menentang kelompok pro. Sebagai sosiolog atau calon sosiolog, yang kebetulan menjadi aktor dalam kelompok-kelompok di atas, bisa memaksakan pendapatnya untuk dilaksanakan bersama, bisa juga memahami realitas yang terjadi di kelompok yang lain, dan lain sebagainya. Yang jelas seluruh pengetahuan, pemahaman, seluruh nilai-nilai sosiologis yang sudah dipelajari, seyogyanya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh setiap insan sosiolog. Ajang MK (Malam Keakraban), dapat dijadikan miniatur untuk benar-benar menjadi sosiolog yang bisa menempatkan diri sebagai seorang sosiolog (sociologist qua sociologist).

         Kurang pantas kiranya jika seorang sosiolog tidak berlaku sebagai seorang sosiolog. Kurang pantas kiranya jika sosiolog menempatkan diri pada warna hitam maupun warna putih, karena ada yang menyatakan bahwa sosiologi adalah abu-abu, tidak memandang hitam, dan tidak memandang putih. Lantas apakah dengan nilai yang demikian bisa dijadikan patokan seorang sosiolog untuk membenarkan hal yang dianggap salah oleh khalayak? Abu-abu bukan berarti bebas untuk menjamah warna apapun, akan tetapi abu-abu di atas bermakna bisa menempatkan diri se netral mungkin agar dapat melihat realitas sebagaimana yang terlihat, yaitu apa adanya. Dengan menjadi abu-abu, maka ia dapat melihat hitam, ia pun dapat melihat putih, bahkan warna-warna yang lain.

          Singkatnya, hakikat sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, adalah ada pada bagaimana nilai-nilai sosiologi ini diterapkan atau diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, apapun warna kehidupannya, bagaimanapun rasa kehidupannya. Apapun nanti karier yang dijalani oleh mahasiswa sosiologi setelah lulus nantinya, nilai-nilai sosiologi yang sudah dipelajari sekian tahun lamanya dapat diterapkan dalam bentuk kehidupan yang bagaimanapun, dalam kondisi apapun. Apapun yang sudah dipelajari selama kuliah di jurusan sosiologi, nilai-nilai tentang struktural fungsional, nilai-nilai tentang teori konflik, nilai-nilai tentang teori-teori humanis, kesemuanya bisa diterapkan pada diri lingkungan sosial dimana sosiolog nanti hidup, dan tentunya pada diri sosiolog sendiri.

Kuliah Lapangan: Cerminan Dinamisasi Masyarakat
        Kuliah lapangan, merupakan makanan dan minuman sehari-hari insan yang mengenyam pendidikan di Sosiologi Unair. Ada kuliah lapangan perdana yang diberi nama oleh pendahulu kita dengan TIPSOS (Tipologi Sosial), dilanjutkan dengan SOSDES (Sosiologi Pedesaan). Ada juga Sosiologi Perkotaan, Metode Penelitian Kualitatif, Metode penelitian Kuantitatif, Stratifikasi Sosial, Sosiologi Kependudukan, CSR, dan banyak pekerjaan lapangan lainnya. Kata Lapangan sepertinya menjadi identitas tersendiri bagi Sosiologi. Untuk masalah Lapangan, bisa dikata mahasiswa sosiologi ahli dibidangnya. Mulai pengurusan perizinan, menyusun konsep, membuat strategi dan taktik, manajemen kelompok, dan lain sebagainya. Kuliah lapangan adalah entitas yang bernuansa seni, membutuhkan nalar dan daya seni tersendiri. Artinya untuk memahami secara betul, meresapi segala sesuatu terkait kuliah lapangan ini, perlu latihan berkali-kali layaknya seseorang yang ingin mahir bermain seni, latihanlah yang menjadi bumbu utamanya.

    Tipologi Sosial sebagai kuliah lapangan perdana bagi mahasiswa sosiologi unair, menyuguhkan berbagai pengalaman yang tiada tara rasanya. Setiap orang yang terlibat dalam kuliah lapangan ini dapat merasakan detik demi detik pengalaman yang sangat berarti tersebut. Awal pembentukan kelompok, menjadi pengalaman pertama di Tipologi Sosial ini. Kelompok menjadi identitas tersendiri dalam sosiologi. Sebagai ilmu yang mempelajari tentang masyarakat dan kelompok sosial, kelompok awal yang dibentuk kala Tipologi Sosial merupakan miniatur yang dapat dipakai untuk belajar memahami kelompok yang lebih besar. Paling tidak di sana setiap mahasiswa dapat belajar untuk hidup secara berkelompok, hidup di tengah-tengah masyarakat. Seperti apa yang tersirat dalam arti sosiologi itu sendiri, bahwa orang yang mempelajari sosiologi, seakan-akan dituntut untuk bisa hidup dan beradaptasi pada kelompok atau masyarakat macam apapun. Dan kelompok pada Tipologi Sosial ini menjadi miniatur awal untuk belajar akan hal tersebut. Belajar hidup berkelompok, hidup dalam masyarakat, belajar beradaptasi, belajar me-manage konflik yang terjadi dalam kelompok, belajar me-resolusi jikala ada konflik yang berpotensi merusak, belajar menghargai orang lain sebagai salah satu identitas seorang sosiolog nantinya, dan belajar-belajar yang lainnya. Yang intinya pengalaman adalah guru yang paling berharga dalam perjalanan hidup setiap orang, dan melalui Tipologi Sosial itulah setiap mahasiswa belajar berkelompok melalui suatu pengalaman.

    Setelah Tipologi Sosial, mahasiswa kemudian dihadapkan dengan kuliah lapangan selanjutnya yang berjudulkan Sosiologi Pedesaan. Tidak hanya Sosiologi Pedesaan, kuliah lapangan pun menjadi identitas dari beberapa matakuliah di hampir setiap semester di Sosiologi. Hampir setiap semester rasanya kurang pas jika Sosiologi tidak menyelenggarakan kuliah lapangan. Dan berkelompok menjadi ciri khas tersendiri dari kuliah lapangan Sosiologi. Kenapa harus berkelompok? Sebagaimana yang sedikit disinggung di atas, bahwa setiap tugas yang dikerjakan secara kelompok, terlebih lagi tugas yang mengatasnamakan kuliah lapangan, merupakan cerminan atau miniatur dari masyarakat yang lebih besar. Di setiap masyarakat, apapun itu, tidak akan pernah terlepas dari yang namanya dinamika. Setiap orang mempunyai kapasitas masing-masing, setiap orang mempunyai intelegensia, sikap mental, persepsi, nilai yang dianut, pengalaman, pemahaman yang berbeda-beda. Keberbedaan pemahaman dan lain sebagainya tersebut tidak jarang akan menimbulkan suatu gesekan atau persinggungan tersendiri. Mengutip apa yang menjadi buah dari pemikiran seorang filusuf Thomas Hobbes bahwa “homo momini lupus”, manusia adalah srigala bagi sesamanya, keadaan ini nantinya akan mendorong adanya “bellum omnium contra omnes” perang semua melawan semua. Sudah wajar kiranya dalam kelompok terdapat suatu perselisihan, karena selain sebagai wujud dari perbedaan setiap anggotanya, pertikaian tersebut sepertinya merupakan salah satu wujud dari adanya manusia itu sendiri. Oleh karena itulah setiap orang dituntut untuk bisa beradaptasi dengan situasi macam apapun, akan tetapi tidak semua orang dapat melakukannya. Dan di Sosiologi, melalui kelompok-kelompok semacam itu misalnya setiap mahasiswa diajari secara tidak langsung mengenai bagaimana hidup di dalam masyarakat nantinya. Karena itulah dapat dikatakan bahwa kuliah lapangan melalui tugas-tugas kelompoknya merupakan cerminan dari masyarakat yang lebih besar.

      Selain itu, sebagai seorang sosiolog minimal harus memprektekkan apa-apa pengetahuan yang telah didapatkan dalam kuliah, di kehidupan sehari-harinya. Nilai plus yang dimiliki oleh mahasiswa sosiologi selain belajar mengenai hard skill, soft skill dan life skill dalam kuliah lapangan, mereka juga bisa mempraktekkan segala teori-teori sosial yang telah dipelajarinya dalam kelompok-kelompok semacam itu, kelompok kuliah lapangan misalnya. Kelompok-kelompok yang semacam itulah, atau dalam moment-moment apapun yang di dalamnya terdapat dinamisasi layaknya dinamisasi yang terjadi di masyarakat, dapat digunakan sebagai ajang untuk mempraktekkan ilmu yang telah didapat. Teori-teori yang telah dipelajari sedemikian rupa dapat digunakan sebagai pisau analisis untuk mengkaji kelompok-kelompok kecil yang ada di sekelilingnya, terlebih analisa tersebut dapat membuahkan hasil sehingga dapat diketemukan solusi pemecahannya. Inilah kenapa kita harus patut untuk bersyukur bisa dibesarkan di Sosiologi.




[1] Untuk pemahaman lebih holistik dan mendalam lagi, silahkan baca buku hand book of qualitative research karangan Denzin and Lincoln yang di dalamnya diterangkan mengenai berbagai macam perspektif dalam melihat realitas sosial. baca juga buku karangan Hanneman Samuel yang secara ringkas dan lugas mensintesakan dua perspektif yang saling bertolak belakang menjadi satu, yakni perspektif fakta sosial/positivisme dan perspektif definisi sosial/konstruktivisme.
 

Daftar Blog Saya