Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 27 Agustus 2013

POLITIK, MEDIA, DAN MASYARAKAT

Oleh : Imamulhuda Alsiddiq

                Sebagaimana yang telah diketahui oleh khalayak umum mengenai eskalasi penggunaan media online yang semakin menajam dikalangan masyarakat. Facebook, twitter, BBM, dan banyak media lainnya, bukan menjadi sesuatu yang mewah ataupun rahasia kembali. Semua aspek, aktor dalam berbagai struktur sosial yang ada sudah tidak kaget akan keberadaan media-media jejaring sosial tersebut. Bahkan entitas tersebut pun tidak mengenal kualifikasi umur penggunanya.
            Penggunaan media jejaring sosial ini secara masif dikalangan masyarakat menjadi senjata yang menjanjikan bagi elit-elit politik dalam usaha merebut simpati masyarakat. Para elit politik bisa dengan mudah berinteraksi dengan para konstituen mereka dengan lebih mudah. Aspirasi atau visi dan misi pun bisa dengan mudah pula tersampaikan, dan tentunya secara tidak langsung dapat memperhemat biaya kampanye. Pemenangan Jokowi-Ahok dalam pemilukada Jakarta misalnya, menggunakan media jejaring sosial online dalam suksesinya. Mulai proses deklarasi sampai pemenangan pemilu tim sukses beberapa diantara mereka hanya perlu duduk didepan komputer dan menjalankan strategi mereka melalui facebook dan twitter. Tidak hanya Jokowi-Ahok, dalam Pemilu Presiden Amerika Serikat yang dimenangkan pasangan Obama-Bidden atas Romney-Ryan juga memanfaatkan jejaring sosial online pula. Obama menang telak atas Romney dan kandidat yang lain dengan memperoleh 50,5% suara. Sedangkan Romney berada di bawah Obama dengan 47,9% suara. Fenomena yang demikian jelas mengisyaratkan bahwa zaman post-modern benar-benar merupakan zaman cyber. Segala sesuatu sudah terfasilitasi dengan teknologi informasi ini, mulai pendidikan, roda perekonomian, sampai pada ranah politik. Setiap orang dapat dengan mudah terhubung dengan yang lain tanpa harus bertatap muka. Calon kandidat kepala daerah ataupun kepala negara dapat dengan mudah berinteraksi dengan masyarakat, mengambil simpati masyarakat, melakukan pencitraan hanya melalui media onine khususnya dan media-media lain secara umum.

Hidden Reality
Media berperan penting dalam proses dinamika perpolitikan Indonesia, entah itu bagi elit-elit politik ataupun masyarakat luas. Melalui media, tidak hanya media online, media apapun yang menjadi wadah atau sarana informasi massa, segala informasi dapat tersampaikan kepada masyarakat luas, termasuk didalamnya intrik-intrik politik. Melalui kebebasan pers sebagai salah satu representasi dari media pula, mununjukkan akan adanya proses demokratisasi di suatu negara. Dengan artian kebebasan dalam mengakses ataupun berekspresi dalam media, menyalurkan pendapat, gagasan, opini, kritikan pedas kepada pemerintah, merupakan salah satu ciri berjalannya proses demokrasi.
Akan tetapi, media pun juga mempunyai sisi-sisi gelap yang tidak semua orang dapat mengetahuinya dengan pasti apa isi dari sisi gelap tersbeut. Isi pemberitaan di media sangat tergantung pada apa yang sedang menjadi topik hangat di masyarakat. Sebelum itu, kesemua isi media yang tergantung pada apa yang menjadi topik hangat atau yang laris di masyarakat, sangat ditentukan oleh aktor-aktor media tersebut bermanuver, memoles berita sedemikian rupa, memilah berita yang sekiranya bisa menarik perhatian masyarakat. Eskalasi topik yang hangat dibicarakan dimasyarakat ditentukan bagaimana awak media memberitakan suatu peristiwa. Ada peristiwa tertentu yang sebenarnya tidak terlalu menarik perhatian masyarakat, akan tetapi oleh awak media peristiwa tersebut terus menerus dengan bertubi-tubi diberitakan, ada yang dibesar-besarkan beritanya, ada pula bagian berita yang ditenggelamkan.
Banyak peristiwa-peristiwa hukum dan politik yang sudah tidak lagi menjadi pembicaraan serius rakyat Indonesia sebagai pemegang kedaulatan negara. Peristiwa-peristiwa yang ditenggelamkan begitu saja oleh media yang memunculkan wacana-wacana baru. Mengutip salah satu pendapat teman seperjuangan dalam status facebook-nya, yang intinya bahwa media memainkan peran dengan menenggelamkan pemberitaan pembahasan RUU tertentu, yang seharusnya perlu untuk diketahui oleh publik dengan memunculkan pemberitaan yang lain yang sebenarnya secara prioritas dalam kaitanya dengan kehidupan bernegara, kurang penting.
Dengan demikian, peran media sangat besar dalam pembentukan opini publik, suksesi politik, mobilisasi masa, dan lain sebagainya. Sehingga dengan adanya media, akan muncul suatu realitas yang diketahui publik dan realitas yang ada di belakang, yang oleh publik tidak diketahui. Terminologi ini oleh Goffman dalam teori dramaturgi-nya dibahasakan dengan front stage untuk realitas yang diketahui oleh publik dan back stage untuk realitas yang tersembunyi. Media mempunyai peran besar untuk memunculkan atau tidak memunculkan realitas-realitas tersebut dihadapan publik.

Konsumen Media yang Cerdas
            Dinamika perpolitikan di Indonesia dengan ini, sedikit banyak, ada hubungan pengaruh dan mempengaruhi dengan media. Negara, partai politik, dan masyarakat sebagai bagian kecil dari proses politik, sangat memerlukan eksistensi media sebagai titik tengah dalam interaksi politik. Media setelah reformasi, gerakannya semakin bebas, bebas bermanuver, bebas memoles realitas yang didapatnya untuk disajikan kepada masyarakat. Dengan kebebasan media ini, tak ayal akan semakin memunculkan differensiasi atau varietas pemberitaan yang semakin beragam.
            Dengan posisi media dalam kancah politik terletak pada posisi yang sentral, membentuk opini publik, menebarkan wacana, memberikan suatu pencitraan, yang bisa jadi sangat beragam tersebut, dapat pula memunculkan interpretasi masyarakat yang beragam-ragam pula. Terlepas dari kemungkinan adanya sentimen subjektif setiap individu, masyarakat pun akan mempunyai penilaian terhadap fenomena politik yang terjadi melalui informasi yang disajikan oleh media. Ada media yang benar-benar menginformasikan realitas apa adanya. Ada pula media yang terlalu membesar-besarkan, dan lain sebagainya. Sehingga varietas pemberitaan media ini akan membuat pemahaman masyarakat semakin beragam pula. Masyarakat membutuhkan informasi yang benar dan valid atas atmosfer politik yang terjadi. Interpretasi dan pemahaman masyarakat penuh merupakan hak bagi masayrakat sendiri. Masyarakat bebas memberikan penilaian, dan pemahaman terkait fenomena tersebut.


            Sebagai konsumen media, setiap individu dan masyarakat perlu kiranya untuk tidak asal menelan atau mengkonsumsi informasi dari media begitu saja. Setiap individu dalam masyarakat perlu kiranya untuk benar-benar melihat dengan jeli informasi yang dikonsumsinya. Hanya berfokus pada satu media saja, tanpa memperhatikan media atau sumber yang lain, merupakan hal yang gegabah dalam mengkonsumsi informasi dari media, terlebih lagi informasi tersebut nantinya digunakan untuk memberikan penilaian. Karena dalam ilmu sosial dan politik, fenomena-fenomena tersebut bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Untuk itulah perlu setiap konsumen media harus cerdas dalam mengkonsumsi media, jangan hanya bertitik tolak pada satu media saja. Sumber informasi lain juga perlu dipertimbangkan dalam mencari informasi yang benar-benar komprehensif, dan tidak setengah-setengah.

Selasa, 13 Agustus 2013

TENTANG KONSEPSI

Oleh : Isra Yuda

Suatu hari terjadi perdebatan antara si A dan si B mengenai konsep mana yang akan dipakai dalam menyelenggarakan sebuah event. A mengatakan bahwa konsepnya-lah yang paling cocok dan sesuai untuk dipakai dalam event, namun si B menyangkal. B mengatakan bahwa konsepnya lebih bagus karena disesuaikan dengan kebutuhan serta tujuan yang ada. Konsep B mengedepankan esensi dibanding sekedar kreatifitas kosong semata seperti yang dibuat oleh si A. Maka mereka pun berdebat tiada henti tentang konsep siapa yang paling baik.

A terlebih dahulu menyerahkan konsepnya kepada atasan, namun si B, yang datang setelah A, menjelek – jelekkan konsep si A dihadapan atasan dan mencoba meyakinkan atasan untuk memakai konsep si B. Perdebatan berlanjut. Atasan yang jengkel karena ulah mereka berdua lantas diam sejenak dan mencoba mengulur waktu dengan mendengarkan ocehan mereka.

Setelah atasan merasa cukup dengan kesabarannya, ia lantas menghardik A dan B untuk diam dan mendengarkannya. Atasan mengatakan bahwa ia tidak akan menyetujui konsep siapapun sebelum A merubah konsepnya menyerupai konsep B, dan menyuruh B merubah konsepnya menyerupai konsep A. Perintah atasan membuat keduanya bingung.


Maka keluarlah mereka berdua dan saling bertatap tajam dan saling menjauh karena gengsi besar mereka. Maka ketika mereka berdua lelah karena saling menjauh sementara masing – masing mereka kesulitan untuk memperbaiki konsep sesuai perintah atasan, merekapun saling bertemu dalam keadaan rikuh.

Mereka sekuat tenaga memendam gengsi besar mereka. Amarah dan malu mereka tahan demi meloloskan ide masing – masing. Ketika mereka berdua akhirnya bertukar konsep dan saling membaca, akhirnya mereka tahu betapa banyak kekurangan konsep mereka berdua dan betapa konsep mereka saling melengkapi, dan bersegera memperbaiki konsep mereka masing – masing dengan meniru kelebihan konsep lawannya.

Hari berikutnya mereka menghadap atasan dan menyerahkan konsep mereka yang telah diperbaharui. Atasan yang melihat konsep masing – masing tahu bahwa pada akhirnya konsep mereka berdua akan serupa. Menyadari hal tersebut, atasan yang terkenal cukup bijak lalu bertanya, “Siapa yang lebih dahulu menemui siapa?”. Mereka berdua saling bertatapan, lalu A menjawab, B yang terlebih dahulu menemui saya. Atasan menjawab, “Maka konsep B-lah yang akan saya pakai!”.

A bertanya kepada atasan, “Mengapa konsep B yang dipakai padahal konsep kami tidak jauh berbeda?”. Atasan dengan tenang menjawab, “Bukan konsep sempurna yang saya cari, tapi kemauan hati untuk menyempurnakan-lah yang saya harapkan sebagai upaya mendekati kesempurnaan. B telah menunjukan upaya itu dengan terlebih dahulu memendam egonya untuk mencari konsep yang lebih baik. Meskipun pada akhirnya konsep kalian berdua sama, namun konsep B-lah yang akan saya pilih karena nilai lebih yang belum kamu miliki”.

Mendengar hal itu A mengerti dan berbesar hati untuk menerima keputusan atasan serta memberi selamat kepada B.

Konsepsi Membutuhkan Pijakan

Ketika kita hendak merumuskan kosepsi atau mencari suatu gagasan mengenai persoalan, banyak dari kita dengan mudahnya merumuskan hal itu bermodalkan pengetahuan dan pengalaman yang kita punya. Terkadang, karena mudahnya hal itu, kita lupa akan bagaimana mengoreksi kekurangan – kekurangannya. Banyak dari kita memuja pikiran sendiri karena merasa pintar dan berpengalaman. Kita tidak pernah tahu atau mau tahu tentang apa yang dipikirkan orang lain, karena kesombongan kita yang mengatakan bahwa kita lebih baik dari yang lain.

Gagasan yang kita punya kita anggap sempurna, paling cocok, paling unggul, paling baik, paling benar dan sebagainya. Kita tidak bisa terima kritik apapun meski itu berasal dari diri kita sendiri. sikap ini menutup upaya lebih dalam mendekati kesempurnaan yang sesungguhnya. Kita enggan bertanya atau meminta pendapat orang lain. kita memiliki gengsi intelektual yang tak tertahankan dimana kita mengganggap diri kita lebih pintar.

Bahkan saya sendiri (pengalaman pribadi) pernah merasakan hal tersebut, hingga mengakibatkan dampak buruk dalam segi pergaulan. Saya menyadari bahwa kemampuan kita merumuskan suatu konsep tidak akan pernah sampai pada kesempurnaan jika kita tidak membuka diri pada keterbukaan akan kesalahan yang ada. Semua orang bebas berpendapat, namun bukan berarti semua pendapat orang adalah benar.

Kita lupa, bahwa konsepsi yang kita miliki sejatinya adalah gagasan yang kita curi dari orang lain. dari mana kita mendapat pengetahuan terhadap suatu gagasan? Tidak mungkin tidak kalau kita mendapatkannya dari orang lain. kita bisa merumuskan konsepsi negara demokratis dari pemikiran Montesque atau Soekarno. Kita bisa merumuskan konsepsi diri dari buku para ahli psikologi. Kita bisa merumuskan konsepsi pendidikan dari Freire, dan lain sebagainya. Kita tidak pernah memulainya dari nol. Kita butuh pijakan untuk dapat merumuskan pijakan sendiri. kita butuh cermin untuk melihat gambaran baru. Bahkan terkadang kita bercermin pada alam untuk mendapat konsepsi tentang sesuatu.

Kesempurnaan Konsepsi

Mengunggulkan konsepsi diatas konsepsi lain merupakan pengkotakan pemikiran. Bahayanya hal ini bisa menimbulkan radikalisme pemikiran. Sejarah membuktikan betapa radikalisme pemikiran[1] membawa petaka hebat bagi banyak orang. Seperti halnya terjadi pada konsepsi orang – orang komunis mengenai negara. Demi terciptanya kondisi ideal yang mereka citakan, segala konsepsi atau gagasan lain yang dianggap salah dan bertentangan mereka habisi dengan brutal. Dampaknya, banyak jatuh korban dan permusuhan akibat dendam sejarah.

Perdebatan konsepsi memang diperlukan, karena hal tersebut merupakan bagian dari proses penyempurnaan. Namun mengedepankan ego dan menutup diri dari kritik adalah sikap yang membawa kita pada kebuntuan. Jika kita tidak mau menelanjangi pikiran, maka pikiran itu tidak akan terbuka dengan sendirinya dan akan terjadi stagnan yang mengakibatkan tertutupnya berbagai solusi dari setiap kekurangan yang selalu ada dalam setiap gagasan manusia.

Memiliki itikad untuk memperbaiki dan menawarkan solusi adalah baik dan harus dilakukan terus menerus, namun hasil yang dicapai harus disadari tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sejati. Proses adalah hal terpenting yang menjadikan suatu konsepsi mendekati ksempurnaan. Untuk itu, sebuah konsepsi akan selalu diuji, dikaji dan diperbaiki. Sikap tertutup terhadap hal itu merupakan penyesatan. Seperti kisah yang penulis ceritakan diatas, keunggulan tidak terletak pada hasil yang kita capai, karena setiap hasil yang kita capai bersifat relatif, namun upaya mencapai hasil tersebutlah yang membuat kita selalu unggul. Keunggulan tersebut terletak pada upaya kita untuk selalu belajar.

Belajar bukan semata – mata mempelajari konsepsi orang lain demi hasil terbaik, namun belajar yang dimaksud adalah bagaimana kita membuka hati dan menumbuhkan kesadaran terhadap kekurangan. Dengan merasa kurang kita akan terus mendaki pada pencapaian terbaik. Merasa kurang berarti menyadari bahwa kita harus terus belajar. Belajar berarti melakukan upaya perbaikan secara mandiri. Kemandirian akan membawa pada kualitas. Kualitas adalah modal untuk mendapatkan penghargaan tertinggi.

Oleh karena itu, membuat konsepsi merupakan langkah yang urgent dalam mewujudkan perubahan, namun kita tidak boleh menutup pikiran dan hati dari kekurangan diri. Proses menuju kesempurnaan akan selalu dan harus terjadi tanpa henti, dengan begitu kita bisa semakin dekat dengan pembangunan kualitas perubahan terbaik.

Dikutip dari blog penulis dengan judul yang sama, “TENTANG KONSEPSI”, alamat web : http://israyuda.wordpress.com/2013/08/13/tentang-konsepsi/ 

Minggu, 04 Agustus 2013

MENULIS ADALAH SENJATA

Oleh : Ahmad Finchy Arifin

“tujuan seorang penulis, adalah menarik perhatian pembaca... yang saya inginkan agar pembaca menyimak setiap halaman dari buku yang mereka baca hingga akhir” (Barbara Thucman, Newyork Times, 2 Februari 1989)

Tulisan adalah sesuatu yang selalu mengiringi dan sangat berpengaruh dalam  kehidupan manusia, melalui tulisan ini lah manusia bisa menuangkan ungkapan isi hatinya dan kemudian membaginya pada yang lain. Di saat membaca dan membuat tulisan itu, kita akan merasakan berbagai hal mulai dari sedih, senang, bingung, terkejut dan sebagainya akan terasa saat membaca atau menulis sebuah tulisan. Menurut fakta tulisan sudah digunakan manusia jutaan tahun lalu, hal ini terbukti dengan adanya banyak tulisan-tulisan peninggalan dari jaman pra sejarah dan hal itu pun mempengaruhi perkembangan manusia pada berbagai bidang sesudahnya.

Ide Dapat Sangat Berpengaruh

Sebuah ide bisa sangat berpengaruh bagi perubahan, dalam novel gravis karya Alan Moore “V for Vendetta” yang kemudian di filmkan dengan judul yang sama pada  2006, dalam  cerita  dapat  terlihat jelas bagaimana sebuah ide/gagasan bisa sangat berpengaruh dalam menuju revolusi sosial.

Ada  salah satu dialog dalam  cerita yang menjadi favorit saya yaitu ketika tokoh V tanpa  gentar menerjang peluru-peluru pistol sambil berkata ke penembaknya: "Kau hendak membunuhku? Tak ada darah atau daging di balik jubah ini yang dapat dibunuh. Hanya  ada ide. Dan ide  tahan peluru."  (Vendetta, hlm. 236).

Kemudian dalam  potongan narasi prolog pada  awal film  menerangkan bahwa, “Kita  disuruh mengingat pemikirannya  dan bukan orangnya. Karena  manusia  bisa  gagal. Dia  bisa tertangkap, dia  bisa  terbunuh dan terlupakan. Tapi 400 tahun kemudian...sebuah pemikiran masih bisa mengubah dunia. Aku menyaksikan dari awal akan kedahsyatan sebuah pemikiran. Aku melihat manusia  membunuh dengan mengatas namakan pemikiran itu...dan mati karena mempertahankan pemikiran tersebut. Tapi kau tak  bisa  mencium  sebuah pemikiran...tak bisa menyentuh atau pun memegang pemikiran tersebut. Pemikiran tidak berdarah. Mereka tidak merasakan sakit”. Dalam  akhir cerita  V berhasil metransformasikan pemikiranya  pada  seluruh masyarakat Inggris, seluruh masyarakat Inggris akhirnya  dapat bersatu untuk menggulingkan pemerintahan reZim totaliter yg berkuasa saat itu.

Dari sini kita tahu bahwa betapa dahsyatnya sebuah ide, ide/pemikiran/gagasan itu kebal, tidak bisa dibunuh atau dihilangkan. Proses transformasi lah yang membuat ide  itu tetap ada. Bentuk transformasi ide  bisa melalui media  audio maupun visual, tetapi tulisan adalah salah satu bentuk transformasi ide  yang sangat efektif, karena siapapun juga pasti dapat melakukanya, selain itu tulisan dapat dibaca berulang kali sehingga penanaman ideologi itu akan semakin mendalam.

Tulisan terbukti dapat mempengaruhi kehidupan manusia dalam berbagai bidang, baik dalam  hal perkembangan teknologi, sosial, politik, ekonomi dan budaya. Tulisan digunakan untuk berbagai hal dan keperluannya  dalam menjalankan roda  kehidupan. Seperti yang kita ketahui, ada 2 hal yang tidak dapat dipisahkan, yaitu membaca  dan menulis. Tulisan kita  gunakan untuk mengapresiasi ide  dan membaca  kita gunakan untuk mencari ide. Hal ini menjadi penting karena kita ingat saat duduk di bangku sekolah, membaca dan menulis adalah pelajaran yang pertama kali kita  dapat, ini membuktikan bahwa  membaca  dan menulis adalah kebutuhan pendidikan utama yang wajib.
Tulisan masih digunakan oleh manusisa di berbagai belahan dunia hingga kini. Tulisan mereka gunakan untuk berbagai hal antara lain sebagai sarana komunikasi, informasi, media sosialisasi, atau hanya sekedar sebagai seni karya pribadi. Namun, tak hanya berhenti di situ. Dalam berbagai sejarah perkembangan ternyata tulisan juga bisa dijadikan senjata yang sangat ampuh. Bergantung dari keahlian penulis meramu Isu, informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi dalam resep tulisanya yang kemudian dapat dibaca oleh individu lain, inilah faktor utama kenapa tulisan menjadi sangat berpengaruh dalam berbagai kehidupan.

Tulisan bukanlah senjata yang secara fisik dapat menghancurkan apa saja yang ada di hadapanya. Ibaratnya, jika  tulisan adalah racun, maka  banyak orang yang akan teracuni ketika  membacanya. Maka  jika tulisan itu adalah madu, maka akan membawa manfaat pula bagi yang membacanya.

Menulis adalah Melawan

Banyak penulis yang sepanjang hidupnya  sampai saat  ini masih dikenang karena  dari tulisan yang ia publikasikan mengakibatkan perubahan yang cukup terasa. Ambil contoh salah satu penulis sastra  terkenal William  Shakespeare  yang selama hidupnya  ia abdikan untuk menulis berbagai cerita  berupa  karya  sastra. Hingga  sekarang karya-karyanya  digunakan dan dibaca  oleh manusia  modern bahkan jauh setelah ia meninggal. Atau juga seperti Soe  Hok Gie  yang hingga  sekarang dikenang atas talentanya  dalam  menulis hingga dapat mempengaruhi iklim sosial dan politik bangsa kita.

Kita  mulai dari Soe  Hok Gie, adalah seseorang yang hidup pada  masa  orde  lama yang selanjutnya  menjadi tokoh penting dan mengambil andil dalam  pergerakan perubahan di Indonesia. Pada  masa  itu, terjadi pergolakan besar-besaran di Indonesia. Pemikiran Gie  yang terus bertumbuh kemudian ia  curahkan dalam rentetan catatan harian yang selalu setia menemaninya hingga 12 tahun lamanya. 12 tahun catatan harianya itu kini dirangkum dalam sebuah buku berjudul “Catatan Seorang Demonstran”. Selain itu, Gie lebih banyak berjuang lewat tulisan, Gie merekam jejak pemikiranya dalam berbagai media cetak yang saat itu diharapkan bisa menyebar luaskan pemikiranya yang idealis dan juga realis, karena secara nyata Gie menjadi pion utama dalam  tonggak  awal pergerakan mahasiswa  yang mulai mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah. Hingga sekarang pun tulisan-tulisan Gie masih sangat kental pengaruhnya dalam pergerakan mahasiswa saat ini.

Selanjutnya  sastrawan dan penulis terkenal Pramoedya  Ananta  Toer (Pram), Pram  adalah penulis indonesia yang karyanya paling banyak dilarang beredar selama dua orde di masa kemerdekaan karena banyak karyanya yang mengkritiki pemerintah. Tercatat sekitar 20-an karya Pram yang diharamkan untuk beredar pada masa 1965 – 1995. Semakin banyak aturan, maka  semakin banyak pula pelanggaran, mungkin kalimat itu tepat digunakan dalam konteks ini. Karya-karya Pram yang merefleksikan perlawanan pada reZim justru kian diburu pembaca. Membaca dan mengkoleksi karya-karya Pram melambangkan perlawanan terhadap reZim.

Menulis sebaga Tradisi dan Ritual Intelektual

Sebagai mahasiswa, menulis adalah suatu keharusan. Menulis adalah suatu cara untuk kita melatih kembali daya ingat. Jadi akan sangat sia-sia kalau kita hanya meghafal berbagai teori dari A-Z tanpa kita menulisnya kembali. Menulis adalah cara  untuk menunjukkan eksistensi keintelektualan kita. Namun sayangnya  dalam lingkungan kampus saat ini budaya  menulis sangatlah rendah. Ini disebabkan karena  lebih berkembangnya budaya lisan. Lihat saja, kita lebih sering menemui mahasiswa yang merasa cukup dengan menjadi pendengar saja, mendengarkan ceramah dosen di kelas setelah itu sudah, materi akan dilupakan. Kemudian saat mendekati ujian, mulai pontang-panting mencari pinjaman catatan teman. Selain itu, tenaga  pengajar kita sepertinya  kurang memiliki komitmen  sebagai pengembang ilmu pengetahuan. Di kelas kita  lebih sering mendapatkan metode pengajaran satu arah, budaya lisan seperti itu telah membudaya dalam keseharian kita. Disini terdapat  sebuah temuan yang sama seperti Freire  (1967)  dalam  Pedagogy  of the  Oppressed, bahwa metode  pembelajaran yang digunakan pengajar di Indonesia  masih banyak  menggunakan model satu arah, model hafalan (banking)  dan minim  dialog antara  murid dan pengajar. Anton Novenanto seorang sosiolog Universitas Brawijaya  mangatakan dalam  bahasa  yang radikal  bahwa: anak-anak  Indonesia  dilatih untuk bungkam (!) ketika berada di ruang publik. Jadi, bukan mereka tidak bisa menulis, melainkan anak-anak telah dilatih untuk hening ketika  diminta  untuk mengekspresikan apa  yang dipikirkannya. Padahal jika  ilmu itu diibaratkan sebagai binatang buruan, maka membaca  adalah senjatanya  dan menulis adalah pengikatnya. Setiap manusia pastilah memiliki “rasa” (sense) untuk dibagikan kepada yang lain. perlu juga di sadari bahwa setiap manusia memiliki kemampuan akal – budi untuk memahami “rasa”-nya juga “rasa” yang lain (Habermas, 1990, Teknik dan Ilmu sebagai Ideologi). Menulis adalah salah satu cara mengungkapkan “rasa”. Manusia tidak akan menjadi manusia yang utuh jika dia tidak pernah melatih dirinya untuk mengungkapkan “rasa” dan belajar memahami “rasa – rasa” yang lain.

Untuk itu budaya menulis harus kita galakkan kembali, tidak usah dengan harapan yang terlalu muluk-muluk cukup dengan melalui komunitas/forum diskusi kecil akan tetapi punya kapasitas yang masif, sehingga output yang dihasilkan nanti bisa mempengaruhi orang lain untuk tergerak dalam menggalakan budaya menulis. Miris rasanya lorong-lorong kampus yang seharusnya nampak mahasiswa yang sedang berdiskusi tapi malah yang ada mahasiswa yang nongkrong sambil maen-game, dan juga tembok kampus yang seharusnya dihiasi karya, tulisan dan gagasan mahasiswa malah bertebaran iklan komersil. Kampus yang seharusnya digunakan untuk perang wacana dan beradu intelektualitas, yang ada malah perang politis demi kekuasaan semu. Kampus yang seharusnya  digunakan sebagai ruang untuk memperoleh pendidikan pada  kenyataanya  sekarang kampus hanya digunakan sebagai simbol gaya hidup semata.

Saya berharap nantinya menulis bisa menjadi candu bagi seluruh mahasiswa. Jika tulis-menulis telah menjadi bagian hidup seluruh elemen kampus serta didukung arpesiasi dari civitas akademik, dan juga berkomitmen tinggi untuk menjadikan kegiatan menulis menjadi tolok ukur kualitas dan keunggulan ilmu sebuah universitas, saya yakin mimpi untuk mewujudkan universitas kita bertaraf internasional akan terwujud cepat. Jika Rene Descartes terkenal dengan ”cogito er gosum” (aku berfiki,r maka aku ada)nya maka saya boleh bilang “aku menulis, maka aku ada”, itu berarti keintelektualan seseorang dapat ditunjukan lewat tulisanya. Bangkitlah para pelajar! Menulislah!. Orang idealis, kok tak menuangkan pemikiran ideologisnya dalam tulisan. Sungguh sayang!

Oiya, Saya menunggu tulisan-tulisan anda sekalian yang sedang membaca tulisan ini. Thnks. (fnchy)


*tulisan asli dimuat dalam Zine Komar #4 “Zine Media Alternatif”. Ditulis kembali dengan sedikit penambahan

MAHASISWA SEBAGAI PEMEGANG TONGKAT ESTAFET DIMASA DEPAN

Oleh : Anis Mubasyiroh

Dalam pidatonya Ir. Soekarno mengatakan: “Berikan aku seribu orang tua, maka akan aku pindahkan semeru dari akarnya. Dan berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia“. Dari kalimat tersebut, kita dapat memaknai bahwa betapa pentingnya peran pemuda sebagai generasi penerus yang memegang tongkat estafet dalam kurun waktu beberapa puluh tahun waktu kedepan.

Untuk menghadapi masa yang akan datang itu, pemerintah merancang sistem pendidikan sedemikian rupa agar menghasilkan output yang sesuai dengan apa yang menjadi harapan bangsa Indonesia terhadap kaum muda khusunya mahasiswa.
Mahasiswa dianggap sebagai kaum intelektual, para pemuda yang terdidik, serta terbentuk menjadi insan yang siap berperan di masa mendatang, dan akan menggantikan posisi penting dalam kehidupan ini. Mahasiswa benar-benar menjadi harapan tanah air Indonesia menuju ke arah yang lebih baik dari kondisi saat ini, harapan itu sangat besar. Harapan itu tidak akan muncul pada orang-orang yang tidak dapat dipercaya.

Sebagai orang yang telah dipercaya untuk memegang tongkat estafet bangsa Indonesia dimasa yang akan datang, kita harus benar-benar memanfaatkan kesempatan itu dengan sungguh-sungguh. Siapa lagi yang akan diamanahi jika kaum muda itu tidak sanggup  untuk mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik dari seluruh aspek kehidupan ini.

Harapan yang besar itu tidak menjadikan seluruh mahasiswa sadar akan peran yang harus di emban selama menjadi mahasiswa. Dengan mengamati potret mahasiswa saat ini menunjukkan realitas yang berbanding terbalik dengan yang diharapkan, sehingga menimbulkan kekhawatiran.

Jumlah mahasiswa Indonesia saat ini sekitar 4,8 juta orang. Bila dihitung terhadap populasi penduduk berusia 19-24 tahun, maka angka partisipasi kasarnya baru 18,4 persen. (kompas, 2011). Hal ini menunjukkan tidak banyak kesempatan yang dimiliki kaum muda untuk menikmati pendidikan di perguruan tinggi.

Mahasiswa sebagai motor penggerak perubahan. mahasiswa dikenal dengan jiwa pengorbanan yang tak kenal lelah mempertahankan idealismenya, yang lebih substansial lagi adalah mahasiswa mampu berada sedikit di atas kelas masyarakat karena dengan kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya sebagai insan yang menggunakan daya nalar yang tinggi dan kritis  terhadap berbagai persoalan terkait dengan kemajuan bangsanya.

Melihat potensi mahasiswa yang begitu besar, tidak sepantasnyalah peran mahasiswa yang hanya mementingkan kebutuhan pribadi saja. Melainkan harus tetap berkontribusi terhadap bangsa dan negaranya, bukan menjadi mahasiswa yang tanggung jawabnya hanya sebatas study oriented.

Pernah ada pengalaman selama mengadakan penelitian di sebuah pedesaan, yang masyarakatnya dapat dikategorikan menuju arah transisi dari segi pola berpikirnya. Ketika kita datang untuk mengadakan penelitian. Seorang kepala desa beserta perangkatnya langsung menyambut kita dengan penuh antusias dan sangat menghargai kehadiran kita.

Mereka berharap dengan status kita yang menjadi mahasiswa dapat mengubah keadaan masyarakat dengan permasalahan yang begitu kompleks, terutama di bidang sosial ekonominya. Mereka berpesan agar sungguh-sungguh selama menjadi mahasiswa, agar kelak sukses dan bisa membantu  masyarakat kecil seperti kita yang tak didengar aspirasinya.

Dari sini saya merasa sangat kecewa terhadap diri saya sendiri, karena belum menggunakan kesempatan selama menjadi mahasiswa dengan sungguh-sungguh, dan saya masih tergolong menjadi mahasiswa yang study oriented serta belum berkontribusi kepada masyarakat. Semoga dengan ini, kita bisa menjadi pembelajaran bagi kita, agar kita selalu instropeksi dan memperbaiki keadaan mahasiswa saat ini.

Kehidupan tidak bersifat statis, dengan mengamati realitas sosial saat ini merepresentasikan potret mahasiswa mengalami pergeseran nilai-nilai dan tujuan dalam belajar. Mahasiswa kini tak lagi idealis seperti dulu, yang memainkan perannya dalam belajar dan mengabdi pada masyarakat. Saat ini mahasiswa tidak menggunakan kesempatan belajar di perguruan tinggi dengan sungguh-sungguhh, yang lebih parah lagi adalah dan lebih mengutamakan kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup, dengan menghabiskan masa mudanya, uang ataupun materi hanya untuk  menuruti keinginan.

Kekerasan juga seringkali menjadi alternatif yang memang dirancang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Demikian juga dalam bidang ekonomi-politik, ketimpangan ekonomi yang melatarbelakangi masyarakat dapat menjadi pemicu terjadinya kekerasan mahasiswa. Ketika harga-harga sembako atau BBM naik, misalnya, segenap elemen mahasiswa merasa harus melakukan sesuatu untuk mencegah kondisi ekonomi di masyarakat semakin buruk. Namun dengan cara yang seperti itu yang terjadi hanyalah memperburuk keadaan, seperti perusakan, kerusuhan dan kekerasan yang dilakukannya.

Dalam perebutan kekuasaan di lingkungan internal mahasiswa, seperti Pemilu Raya (Pemira) di kampus, mahasiswa melakukan upaya mobilisasi di kalangan mereka untuk mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya. Mobilisasi itu menggunakan taktik diantaranya dengan pemaksaan, ancaman, teror hingga kekerasan secara fisik.
Perilaku tersebut sangat tidak mencerminkan generasi muda yang diharapkan oleh bangsa Indonesia. Namun  tak semua mahasiswa seperti itu, masih banyak harapan untuk mahasiswa yang benar-benar mampu menggunakan kesempatan dalam belajar dan lebih peduli pada masyarakat seperti kita. Kita harus bisa menjadi mahasiswa yang berfungsi secara ideal, yaitu :

Agent of Change : Mahasiswa sebagai agen perubahan, yang mempunyai fungsi ideal, tidak hanya menggunakan ilmunya untuk dirinya sendiri. Namun, harus mampu mengajak dan memengaruhi orang-orang disekelilingnya untuk mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik dalam segala hal melalui pemikiran dan daya kritisnya yang kuat.

Iron Stock : peran mahasiswa yang tak kalah penting adalah mahasiswa dengan ketangguhan idealismenya akan menjadi pengganti generasi-generasi sebelumnya, tentu dengan kemampuan dan akhlak yang mulia. Peran oraganisasi kampus dapat memengaruhi kualitas mahasiswa, dengan adanya kaderisasi dan penanaman nilai yang baik akan menjadikan kualitas mahasiswa yang siap untuk menggantikan peran penting dikehidupan mendatang. Selain itu, mempelajari kesalahan-kesalahan pada generasi masa sebelumnya adalah sangat penting, agar kedepannya dapat dijadikan evaluasi untuk pengembangan diri.

Social Control : Peran mahasiswa sebagai kontrol sosial terjadi ketika ada kebijakan pemerintah yang kontra dengan kehendak masyarakat luas. Mahasiswa dengan gagasan dan ilmunya memiliki peranan menjaga dan memperbaiki nilai dan norma sosial dalam masyarakat. Mahasiswa harus menumbuhkan jiwa sosial yang peduli pada keadaan rakyat yang mengalami penderitaan, ketidakadilan, dan ketertindasan. Kontrol sosial dapat dilakukan ketika pemerintah mengeluarkan suatu kebijakan yang merugikan rakyat, maka dari itu mahasiswa bergerak sebagai perwujudan kepedulian terhadap rakyat.

Pergerakan mahasiswa bukan hanya sekedar turun ke jalan saja, melainkan harus lebih substansial lagi yaitu diskusi, kajian dan lain sebagainya. Bukan hanya itu, sifat peduli terhadap rakyat juga dapat ditunjukkan ketika mahasiswa dapat memberikan bantuan baik secara moril dan materil bagi siapa saja yang membutuhkannya.

Moral force : kekuatan moral adalah fungsi yang utama dalam peran mahasiswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mahasiswa dalam kehidupannya dituntut untuk dapat memberikan contoh dan teladan yang baik dan benar bagi masyarakat luas. Karena mahasiswa adalah bagian dari masyarakat sebagai kaum intelektual yang memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

Semoga kita termasuk kaum muda yang dapat memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya, bersungguh-sungguh dalam mengemban amanah. Hidup tidak untuk main-main, dan senantiasa berbenah diri untuk bangsa Indonesia yang lebih baik dan berdaya. Sesuai dengan Tuhan : “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Q.S. Al An’aam [6]: 3).
 

Daftar Blog Saya