Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 04 Agustus 2013

PERMASALAHAN EKONOMI DI INDONESIA

Oleh : Ika Setya Yuni

Di era modern ini, banyak negara di berbagai belahan dunia mengalami depresi ekonomi sejak tahun 2008. Terutama negara – negara maju di benua eropa, salah satunya yang masih “ segar ” ialah Yunani, Italia dan Spanyol yang mengalami kekisruhan cukup parah sehingga membuat negara merugi dan ketidakstabilan ekonomi. Akibatnya menghasilkan pengangguran yang cukup tinggi. Keadaaan seperti itu juga melanda Perancis, Jerman bahkan Amerika Serikat, namun terasa kurang rasanya kalau membicarakan negara dunia pertama tanpa mengikutsertakan negara dunia ketiga atau negara berkembang seperti Filipina, Meksiko, Ukraina, Malaysia, Brunei Darusallam, Brazil, Argentina dan tentunya, Indonesia. Sebagai pemuda penerus bangsa kurang pantas rasanya kalo tidak membubuhkan analisis mengenai permasalahan Indonesia, khususnya sektor ekonomi.

Awal mula ditengarai dengan penandatanganan AFTA ( Asean Free Trade Area ) dan APEC ( Asean Pasific Economy Corporation ) Indonesia masuk dalam jajaran negara di Asia yang mengikuti sistem perdagangan bebas yaitu ditiadakannya sekat perdagangan yang membebaskan negara – negara anggota leluasa mengekspor tanpa adanya campur tangan pemerintah. Mereka bebas masuk dan menjelajah sampai lorong – lorong lini terkecil dalam masyarakat. Kondisi inilah yang menyebabkan masyarakat kelabakan tak siap mental serta modal, hingga akhirnya banyak pedagang lokal yang harusnya potensial justru gulung tikar. Alhasil maraklah produk – produk luar negeri yang menjamur di pasaran, mulai dari produk dapur, stylist hingga kecantikan. Namun pemerintah seolah kurang tanggap dengan hal itu dan berkelit dengan alasan perekonomian Indonesia tumbuh 6% selama kurun waktu 4 tahun terakhir dan diramalkan lambat laun akan mengungguli perekonomian China. Akankah itu terjadi? Sepertinya perlu perbaikan dalam banyak hal untuk mewujudkannya. Ditengah krisis sosial yang melanda Indonesia saat ini jelas itu tidak mudah, namun bukan berarti tak ada peluang asalkan pemerintah, pemilik modal serta masyarakat konsisten terhadap tujuannya.

Menilik kembali permasalahan yang tak kunjung usai, berawal dari sejarah ketika tahun 1945-1950 pasca kemerdekaan, kondisi ekonomi keuangan masa itu amat buruk. Hal itu disebabkan oleh laju inflasi yang sangat tinggi, juga beredarnya mata uang yang lebih dari satu. Saat itu pemerintah menetapkan tiga mata uang yang berlaku di Indonesia yaitu De Javasche Bank, mata uang Hindia – Belanda dan mata uang Jepang. Kedua tahun 1950 – 1957 yang dikenal dengan masa liberal dimana seluruh kegiatan politik maupun sistem ekonominya menggunakan prinsip liberal. Merujuk pada mahzab – mahzab klasik Laiszez Faire Laissez, seluruh kegiatan perekonomian diserahkan kepada pasar. Padahal kala itu rakyat pribumi masih tertinggal jauh dibanding non pribumi, terutama peranakan Belanda juga pedagang – pedagang dari China. Kondisi tersebut kian memperparah Indonesia. Selanjutnya di masa 1961 – 1967, banyak sekali pergantian kabinet Indonesia, sehingga mengakibatkan sistem sosial, politik dan ekonomi berubah – ubah yang berujung pada permasalahan – permasalahan baru. Tembakan terparah bagi Indonesia ialah tahun 1997, dimana krisis moneter di Indonesia meyebabkan kisruh berkepanjangan, pabrik – pabrik bangkrut, pengusaha gulung tikar, jumlah pengangguran membludak, rupiah anjlok, angka kriminalitas meningkat dsb. Alhasil kebijakan yang selama ini dicanangkan dan dilaksanakan hanya menambah permasalahan – permasalahan baru yang kerap kali membuat RI compang – camping dilanda krisis. Lalu bagaimana solusi yang ditawarkan untuk perbaikan Indonesia?

Pertama disini saya akan menyoroti masalah paling pokok, belajar dari pengalaman 1997 – 1998. Adanya konsistensi sistem pajak untuk berbagai kaum atas, menengah dan kebawah. Selama ini kita tahu, pajak sebagai motor penggerak perbaikan infrastruktur negara mengalami kemandekan dikarenakan mangkirnya para pembayar pajak dengan berbagai alasan. Belum lagi kelonggaran – kelonggaran yang diterima oleh pengusaha membuat rutinitas pajak seakan berhenti begitu saja. Kedua, diterapkannya kemandirian pengambilan keputusan secara ekonomi. Semenjak krisis 1998, Indonesia sangat bergantung pada dana IMF ( International Monetery Fund ). Segala kebijakan dan keputusan Indonesia kala itu juga berdasarkan perintah IMF. Akibatnya sampai sekarang Indonesia masih harus terus membayar hutang pada IMF. Seperti kehilangan jati dirinya, Indonesia terus menuruti permintaan IMF. Sebenarnya situasi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi yang dialami negara – negara Asia Timur lainnya, Jepang, Korea Selatan, China dan Taiwan. Memang dalam hal diplomatis mereka sangat intens berhubungan dengan negara – negara barat, namun untuk menentukan kebijakan ekonomi negaranya mereka sangat mandiri.


Dahulu sekitar tahun 1967  pendapatan perkapita negara – negara di Asia hampir semua sama. Indonesia secara sosial – ekonomi sejajar dengan GNP Malaysia, Thailand, Taiwan dan China, berkisar kurang lebih USS 100 per kapita. Setelah 40 tahun perkembangan perkapita negara – negara tersebut sangat mencolok, Indonesia USS 1.100, Malaysia USS 4.520, Korea Selatan USS 14.000 , Thailand USS 2.490, Taiwan USS 14.590, China USS 1500. Ditarik kesimpulan bahwa meskipun saat itu Indonesia memiliki banyak  lulusan Berkeley ( Universitas terkemuka di AS ) namun mereka tidak mampu mengubah system ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Padahal untuk meningkatkan ekonominya Indonesia memiliki SDA yang melimpah, namun karena kurangnya kepercayaan diri pemerintah saat itu, Indonesia hanya menjual SDA kepada asing dan mengeksploitasinya secara berlebihan tanpa mau mengolahnya sendiri. Kemudian secara terus – menerus untuk melakukan pembangunan infrastruktur Indonesia menggunakan utang luar negeri sebagai penopang utama. Kondisi itu lain halnya dengan proses kemajuan negara - negara Asia Timur lainnya. Mereka menggunakan strategi industrialisasi, ekspor dan peningkatan kualitas produktivitas tenaga kerja dan daya saing nasional. Alhasil meskipun membutuhkan perjuangan panjang, mereka mampu membangkitkan ekonomi mereka dan kini secara perlaha mulai menggeser posisi Amerika sebagai negara adidaya. Hal seperti itu harusnya juga perlu dicontoh oleh Indonesia, jangan lagi bergantung pada utang luar negeri ataupun belas kasihan dari IMF. Mulailah berkembang mandiri dengan memperbaiki sektor mikro serta meningkatkan produktivitas tenanga kerja. Ditengah populasi penduduk yang luar biasa melimpah, tidak sulit bagi Indonesia untuk mencari tenaga kerja dan tentunya juga harus dibekali pembinaan dan ekstra pelatihan kewirausahaan, pengembangan diri serta pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Dari situlah diharapkan adanya spesialisasi pembagian kerja yang secara efisien mampu mengurangi deru pengangguran dan secara perlahan Indonesia mampu menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi paling baik di dunia.

MENULIS ITU SENI, TERAPI DAN SEGAR

Oleh : Ika Setya Yuni

Setiap orang memiliki cita rasa tersendiri, itulah menulis. Kita  mampu melihat keindahan dari sudut pandang yang berbeda. Bagai mozart yang mengalun diantara tuts – tuts piano, setiap  nuansa memberi arti yang mendalam. Menulis tak hanya sekedar mengukir, ada pemaknaan yang tersirat dalam sebuah karya seni.

Seorang teman pernah berkata padaku “ Menulis dapat dijadikan obat, untuk terapi menempa diri, memahami apa yang ada dalam diri kita. Menulis juga dapat mengenalkanmu pada dunia lain yang disebut imaginasi. Dari situlah kamu akan berproses.”

Akhirnya aku mulai menulis tapi naas, sungguh mengerikan. Tulisanku begitu buruk, karyaku tak layak untuk dibaca. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri. Kenapa menulis begitu sulit? Kenapa hanya aku yang tidak bisa? Karya pertamaku sungguh tak sanggup kutunjukkan pada orang lain. Kemudian seperti ada yang berbisik, orang itu berkata “ Menulislah, apapun yang ingin kau tulis. Kalau karyamu bagus, kamu bisa menjualnya. Kalo jelek, saat kamu terkenal nanti, pasti bisa menjadi bagus. Itu tandanya kamu berproses.”


Aku kembali menulis, meskipun harus jatuh, tergelincir, terjebak dan terperosok. Namun satu pelajaran yang kuperoleh. Menulis membuatku bisa menyepi, sedikit menepi dari rutinitas yang kadang begitu melelahkan. Membantu ku menemukan dunia baru, tenggelam bersama dunia tafsir dan kenyataan. Menulis membuatku mampu menemukan titik kebangkitan dalam diri. Bagai gemericik air yang jatuh perlahan ditemani aroma lilin dan semilir angin yang berhembus, begitu menyegarkan. Itulah terapi. Terkadang dalam hidup, kita memerlukan hal – hal seperti ini agar tak terlalu tegang dalam menjalani fase kehidupan.

Sabtu, 03 Agustus 2013

KEPADA SENJA

Oleh : Ika Setya Yuni A.

Telah habis kata, aku berdiam diri. Membisu di ruangan sesak berukuran 3 x 4 ini. Klausterphobia yang melandaku tak kuhiraukan lagi. Mataku memusat memandangi bias wajah tirus, pucat dengan nafas tersengal terpantul dari cermin usang tak layak pakai. Entah kapan cermin itu akan terjatuh dan mengenai telapak kakiku. Aku tak peduli, persetan dengan cermin itu.

Dalam gelap kupandangi diriku sendiri. Buruk dan mengerikan. Aku sudah terlalu kotor. Darah yang mengalir dalam tubuhku ini, sungguh jijik aku untuk melihatnya. Kusebut diriku manusia, namun kulakukan hal – hal keji melebihi yang kau bayangkan.

Ku kotori tanganku dengan belati tajam berbaur mata penuh dendam. Sungguh menggelikan, siapakah diriku? Serigala? Harimau? Mungkin melebihi itu. Siapa yang tega menancapkan pisau di dada Ibunya sendiri? Itulah aku. Mereka memanggilku, Senja.

MAHABBAH TULISAN

Oleh : Imamulhuda Alsiddiq

            Jika ditanya kenapa saya menulis? Saya akan menjawab bahwa jika mayat bisa diawetkan dengan formalin, maka pemikiran bisa diawetkan dengan tulisan. Melalui tulisan, gagasan dan  ide saya bisa lebih mengenang. Bagaimana mungkin seorang perempuan jelita bisa terbayang-bayang lelaki pujaannya tanpa kenal waktu, jika ia tidak jatuh hati padanya, dan bagaimana mungkin ide dan gagasan kita bisa hinggap menerkam imajinasi orang lain jika tidak ditransformasikan, dan instrumen tulisan-lah yang sangat mungkin untuk melakukan hal tersebut.

Transformasi ide dan gagasan dapat melalui media apapun. Audio visual, tatap muka, atau yang sedikit berbau mistik, melalui mimpi, dan lain sebagainya, akan tetapi tulisan adalah entitas yang dapat dibaca berulang-ulang, sehingga transfer ide, gagasan, ilmu dan pengetahuan dapat berlangsung semakin tajam. Ide tidak mudah sirna dengan tulisan, gagasan tidak mudah hilang dengan tulisan, ilmu tidak menjadi semu, dan pengetahuan tidak hanya jadi angan.

            Sebenarnya menulis tidak jauh berbeda dengan hobi-hobi insan lainnya. Menulis tidak jauh berbeda dengan menyanyi, menulis tidak jauh berbeda dengan bermain musik, menulis-pun tidak jauh berbeda dengan bermain bola. Apa yang membuat mereka tidak jauh berbeda? Yakni pada proses untuk mendapatkannya. Prosesnya hampir sama, yaitu sering-sering berlatih.

Menulis merupakan kombinasi dari kemampuan kognitif dan kemampuan psikomotorik. Meskipun demikian kemampuan psikomotorik-lah yang paling mendominasi untuk membangun kemampuan menulis. Tanpa adanya latihan, latihan dan latihan, mencoba, mencoba dan mencoba, mustahil kemampuan menulis bisa terbangun dengan baik. Oleh karena itulah tidak salah jika salah satu senior saya menyatakan bahwa belajar menulis bak belajar menggayuh sepeda. Bukan teori yang ditekankan, melainkan coba dan mencoba.

Ketika kecil, kita tentu sangat ingat betul bagaimana kala itu kita belajar bersepeda. Kaki kecil nan imut kita belajar menggayuh sepeda ketika itu, naek dan ternyata terjatuh. Tak pantang menyerah, kita pun mencoba lagi. Sekian banyak kita mencoba sekian banyak pula kita terjatuh ketika itu. Tapi bukan kita namanya kalo pantang menyerah. Sampai akhirnya kita bisa menggayuh, dan sepeda kecil yang berbunyi “ngek ngek ngek” itu pun bisa kita kendarai dengan mulusnya. Tapi sepertinya laju sepeda masih terlihat tak beraturan, senggol kanan dan sengol kiri. Jangan khawatir, itu merupakan permulaan yang baik, sampai akhirnya kita bisa menggayuh sepeda dengan baik, sepeda gayuh itu pun akhirnya bisa berjalan aduhai.

            Layaknya belajar bersepeda, belajar menulis pun demikian, berawal dari keinginan yang sangat sulit untuk membangunnya, berlanjut membuat prosa dan menentukan diksi-diksi yang cantik, sampai pada tulisan yang utuh, kita pasti mengalami proses jatuh bangun, sampai pada akhirnya bisa berdiri tegap dan benar-benar meyakinkan. Jangan berhenti ketika engkau jatuh, dan jangan putus asa ketika engkau sakit. Kata kuncinya ada pada coba, coba dan coba.

Mengawali menulis tidak selalu membuahkan hasil yang baik. Kritik dan saran dari pihak lain sangatlah dibutuhkan untuk membuat kemampuan menulis kita bisa terasah dengan baik. Oleh karena itu mari kita semua berkumpul dan berhimpun pada satu wadah dalam upaya saling mengisi, saling bertukar pengetahuan, kemampuan, keahlian dalam segala hal terutama menulis. Melalui wadah ini mari kita bentuk sociowriter-sociowriter selanjutnya dalam bingkai kekeluargaan.

Kemampuan-kemampuan yang sangat bervariasi dan heterogen, berkumpul menjadi satu dan saling bertukar akan menghasilkan individu ataupun komunitas yang khas dan skillable. Pelangi dikatakan indah karena terdiri dari berbagai warna, dan komunitas dikatakan indah dan kuat jika terdiri dari berbagai variasi skill yang dihiasi dengan sikap saling mengisi. SELAMAT MENCINTAI TULISAN, SELAMAT SALING MENGISI, SEMANGAT PENA, DAN SALAM SOCIOWRITERS.
 

Daftar Blog Saya